Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label Sumbo Tinarbuko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumbo Tinarbuko. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

Mudik, antara Kebutuhan dan Keinginan



Kapan mudik? Mudik naik apa? Itulah pertanyaan klasik yang muncul jelang Lebaran awal Juli. Pertanyaan tahunan yang dimunculkan sesama "mudiker" ini selalu dikumandangkan lewat media sosial atau langsung diucapkan secara gethok tular. Mereka saling berkomunikasi untuk agenda sakral bertajuk mudik bersama menuju kampung halaman tercinta.

Ritual mudik selalu diawali dan diakhiri dengan bersusah payah. Untuk mewujudkannya pun harus diperjuangkan dengan berdarah-darah. Bahkan, nyawa pun rela menjadi taruhannya. Meski menanggung risiko besar, irama ritual mudik selalu berputar kencang untuk menyedot para pengembara dan perantau setia.

Kencangnya perputaran itu dimaksudkan agar menyegarkan energi yang kerontang akibat digilas mesin waktu kehidupan. Sebuah mesin raksasa yang menjadikan manusia perantau sebagai roh industri kehidupan. Pada titik ini, industri kehidupan diposisikan sebagai mesin kecil yang berputar riuh guna "memproduksi" uang. Sebuah industri kehidupan yang mensyaratkan produksi massal dengan target untung bergunung-gunung.

Kebutuhan mudik
Dalam konteks kebutuhan mudik, perayaan Idul Fitri menjadi magnet besar. Ia dimitoskan mampu membangunkan adrenalin rasa kangen manusia perantau pada orangtuanya, sanak saudara, sahabat, dan kerabat di lingkungan asalnya.

Harus diakui, mudik senantiasa menyembulkan getaran romantisme tiada tara. Getaran natural bersifat alamiah yang secara kodrati harus dipenuhi dengan derajat kewajaran. Hal itu diekspresikan dalam wujud silaturahim bernuansa kehangatan. Cirinya, lelaku saling bermaafan. Ritual klasik yang direpresentasikan lewat prosesi menggenggam tangan merupakan obat penawar rindu. Ia hadir sebagai medium mencari jejak sang fitri. Bersumber dari tanah leluhur ibu pertiwi. Ritual mudik dalam konteks kebutuhan mudik mensyaratkan pertemuan fisik antara sang pemudik dan orang udik. Transfer energi positif antara pemudik dan sang udik, yang menjadi penjuru inti hidup dan kehidupannya, tidak dapat tergantikan oleh apa pun.

Nafsu keinginan
Semua sepakat, fenomena mudik nan fitri sulit ditemukan di jagat perantauan. Tetapi, ketika ritual mudik nan fitri diformat dalam konteks keinginan, maka para "mudiker" otomatis masuk dalam perangkap "jebakan batman". Mereka terjebak gaya hidup budaya konsumtif yang tampil secara artifisial. Semuanya ditimbang lewat takaran uang yang ada di genggamannya.

Dengan demikian, ritual mudik semula mengusung gerbong silaturahim hakiki, sekarang terkontaminasi nafsu keinginan. Dahsyatnya, mereka rela menjadi pemuja gurita kapitalisme global berbentuk budaya konsumtif. Secara halus dan rapi, nafsu keinginan tersebut dengan cerdas dikelola serta diejawantahkan sang gurita kapitalisme global. Lewat rayuannya yang gurih, mereka mampu menelikung para "mudiker" untuk memformat dirinya menjadi bangsa konsumen. Bangsa yang patuh membeli apa pun yang diperintahkan sang gurita kapitalisme global tersebut.

Salahkah mereka? Atas nama hak asasi manusia, tentu pilihan mengedepankan nafsu keinginan 1.000 persen tak salah. Sebab, secara psikologis, seseorang yang pamit merantau untuk mengubah garis hidupnya dituntut mempertanggungjawabkan niatan dan cita-citanya tersebut. Ketika para "mudiker" pulang ke kampung halamannya, pada saat itulah mereka sedang melaporkan status sosialnya sebagai perantau yang "berhasil". Karena sebagian besar "mudiker" bekerja di rantau, wujud pembuktiannya dalam konteks nafsu keinginan adalah laporan dalam bentuk pameran harta benda yang diperolehnya saat banting tulang di perantauan.

Semua itu dilakukan untuk menunjukkan jati dirinya sebagai manusia bergaya hidup modern yang berhasil menguasai dunia. Demi melengkapi pertunjukan sebagai perantau yang "berhasil", mereka senantiasa membeli apa pun yang ditawarkan produsen jaringan kapitalisme global. Semua itu dilakukan demi memuaskan nafsu keinginan untuk dilaporkan kepada orangtua dan sanak kerabat mereka di udik.

Semua itu dilakukan demi sebuah pengakuan diri. Sang "mudiker" terlihat sangat puas ketika orangtua, sanak saudara, dan tetangga di udik memberikan predikat pada dirinya sebagai orang yang sukses. Atas predikat dan pengakuan tersebut, sang "mudiker" secara tidak langsung menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Di balik itu, dalam konteks mengejar nafsu keinginan bergaya hidup modern, sang "mudiker" sekaligus berperan sebagai agen kapitalisme global yang bersifat permisif, artifisial, dan konsumtif.

Hidup sederhana
Perlahan tetapi pasti, para "mudiker" agen kapitalisme global akan mengubah desa menjadi kota. Kearifan lokal menghilang. Lokalitas keberagaman melayang. Semuanya tampil seragam di bawah kuasa trendsetter. Yang diakui hebat harus berbau modern. Bercita rasa kota. Sementara yang udik dianggap ndesa. Harus digempur dan didekonstruksi oleh nafsu keinginan beraroma kota.

Haruskah demikian? Yang jelas harus dihindari adalah upaya untuk mengarahkan seluruh energi kemanusiaan demi memberhalakan materi. Momentum mudik sejatinya mengingatkan akan ajaran nenek moyang. Mengisi hidup dan kehidupan ini ibaratnya mampir ngombe. Durasi hidup di jagat raya ini hanya sesaat. Untuk itu, agar diperoleh keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual, kita harus senantiasa belajar menjalani hidup dan kehidupan ini dengan penuh kesederhanaan. Berlaku bijaksana dalam kondisi apa pun dan untuk siapa pun. Semua itu dilakukan dengan belajar tanpa henti untuk menyelaraskan akal pikiran dan nalar perasaan.

oleh Sumbo Tinarbuko
disadur dari Kompas, Kamis, 30 Juni 2016
versi bahasa Inggris dapat dilihat di sini

Rabu, 27 Juli 2016

"Mudik", between Need and Desire



When will you be "mudik" (homecoming)? "Mudik" by what? That is a classic question raised ahead of the post-fasting Lebaran festivities in early July. The annual question raised among fellow "mudikers" is always echoed through social media or directly spoken in a "gethok tular" (word of mouth) way. They communicate with each other for the sacred agenda called a joint "mudik" to their beloved hometowns.

The "mudik" ritual always begins and ends with a great effort. Even though the risk is great, to the point of staking one's life, the "mudik" ritual is always attracting loyal wanderers and migrants.

The "mudik" is intended to refresh energy that has been consumed by life.

The need of mudik
The celebration of Idul Fitri is about missing parents, other relatives, friends and others.
"Mudik" has a romantic aspect expressed by the strengthening of warm friendships and the act of forgiving each other. The classic ritual, which involves the shaking of hands, constitutes an antidote for a feeling of longing and so requires a physical meeting. The transfer of positive energy between the homecoming visitors and those being visited cannot be replaced by anything.

Lust of desire
All agree that the phenomenon of a pure homecoming is difficult to find in the world.
However, when the pure homecoming ritual is formatted in the context of desire, homecoming travelers are trapped by a consumptive lifestyle.

Therefore the "mudik" ritual, which initially involves friendship, is now contaminated by desire and are seduced by global capitalism to become a nation of consumers.

When the travellers return to their hometowns, they are demonstrating their social status as successful migrants because most "mudikers" work away from home, they display the wealth they gathered from their hard work.

This is done to show themselves as being human beings who have managed to conquer the world. For the sake of completing the show as successful migrants and be so recognized by the people in their home towns, they always buy whatever is offered by capitalist producers.

The "mudikers" look very satisfied when their parents, relatives and neighbors recognize them as successful persons. Behind all of this, the "mudikers" also act as agents of global capitalism, which is permissive, artificial and consumptive.

The simple life
Slowly but surely, the "mudikers" as agents of global capitalism will transform the villages into cities. Local wisdom disappears. Local diversity vanishes. All appear in uniform under the power of the trendsetter. What is acknowledged as great is to have a modern, urban touch. Meanwhile, those staying at home are considered backward.

Must this be so? The things that have to avoided are the efforts to direct all of humanity's energy toward idolizing material things. "Mudik" actually reminds us of the teachings of our ancestors. Filling life is like the old adage of "mampir ngombe" (stopping to have a drink). The duration of life in the universe is only a moment.

Therefore, in order to obtain a balance between material and spiritual needs, we have to constantly learn how to live life in a simple way. Act wisely in whatever situation and toward anyone. All of this is done by learning continuously to harmonize thoughts and a sense of reasoning.

oleh Sumbo Tinarbuko
source Kompas, Thursday, June 30, 2016
Indonesian version can be found at here