Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label disruption economy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label disruption economy. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2016

BRIsat dan Disruption di Bisnis Perbankan



Bagi seorang ayah, detik-detik menunggu istrinya melahirkan adalah momen membahagiakan, tapi juga sangat menegangkan. Bagi sebagian orang mungkin pula terasa mencekam.

Suasana semacam itulah yang saya rasakan saat menemani direksi Bank BRI menunggu detik-detik peluncuran BRIsat di pusat peluncuran satelit di Kourou, Guyana Prancis, Amerika Selatan.

Setelah ditunda, saya kembali ke Jakarta karena masih perlu beberapa hari lagi. Meski demikian putra saya yang punya naluri jurnalisme kuat (ia seorang fotografer profesional) sudah lebih dulu berada di Kourou. Waktu diberitakan ditunda, dia sudah bertemu saya di Paris, lalu berangkat ke Kourou dan menjelajahi Hutan Amazon. Kemudian kembali lagi ke Kourou.

Naluri jurnalistiknya yang kuat telah menghasilkan foto-foto yang menurut saya selain bersejarah, juga indah.

Suasana serupa juga saya rasakan ketika berada di tengah-tengah jajaran direksi PT Angkasa Pura II (AP II) menanti detik-detik jadi tidaknya Terminal 3 Ultimate dioperasikan. Maklum suasana di T1 dan T2 di luar Hari Raya Lebaran saja sudah begitu crowded. Bahkan limpahannya sudah sampai ke Bandara Halim Perdanakusuma. Kadang saya gemas mengapa izin slot terbangnya dibuka terus. Dan kalau terbang di pagi hari saya sering khawatir menyaksikan satu-dua penumpang yang menjadi mudah marah dan bentrok. Karena penumpangnya banyak sekali melebihi kemampuan daya tampungnya. Padat sekali dan antrean mengular panjang. Waswas kalau ada pesawat yang delay.

Sore hari kalau landing di T1 atau di Bandara Halim, saya pun merasakan hal yang sama. Sama sekali sudah tak nyaman. Ya di udara, ya di darat. Apalagi terminal Halim sering dipakai tamu VVIP. Yang sudah pasti sewaktu-waktu dihentikan penerbangannya. Maka kalau jadi dioperasikan T3U, pasti akan baik bagi kenyamanan penumpang. Dan harapan saya, kenyamanan adalah buah dari keamanan.

Kebetulan dua peristiwa tersebut, peluncuran BRIsat dan Terminal 3 Ultimate, terjadi dalam waktu berdekatan. Dan keduanya harus menghadapi kenyataan yang sama, yakni penundaan.

Keputusan penundaan peluncuran BRIsat bahkan sampai tiga kali.

Semula BRIsat bakal diluncurkan Kamis, 9 Juni 2016. Namun peluncuran itu ditunda karena ada masalah pada bahan bakar roket. Rencana peluncuran berikutnya ditetapkan pada Jumat, 17 Juni 2016, tetapi lagi-lagi ditunda akibat adanya gangguan sistem elektrik. Penundaan ketiga terjadi pada Sabtu, 18 Juni 2016, akibat gangguan cuaca di Kourou. Angin di sana bertiup sangat kencang.

Setelah tiga kali mengalami penundaan, akhirnya pada Minggu (19/6) dini hari waktu Indonesia, satelit BRIsat berhasil diluncurkan. Lega. Persis seperti suami yang sekian lama menunggu istrinya melahirkan, akhirnya saat itu tiba juga. Sang istri melahirkan seorang bayi. Keduanya, ibu dan anak, dalam keadaan sehat.

Kalau BRIsat akhirnya berhasil diluncurkan, bagaimana dengan Terminal 3 Ultimate? Agaknya pihak AP II masih harus bersabar. Sampai sekarang kami di AP II tidak tahu kapan terminal tersebut bisa dioperasikan. Ketidakpastian semacam ini tentu melelahkan. Meski begitu kami terus mencoba memetik hikmahnya. Namanya juga kerja kolaborasi. Di antara pihak-pihak itu selalu ada yang tak menjalankan tugasnya, alpa menyediakan ini dan itu, atau ada yang sama sekali tak mau keluar biaya. 

Tapi ada juga yang baru tahu kekurangannya di last minute.

Namun, jangan lupa, untuk melayani masyarakat, yang namanya aparatur sipil negara (ASN) juga punya kewajiban yang diatur dalam UU Pelayanan Publik (UU No 25 Tahun 2009). Kita perlu bahu-membahu membantu, bukan pamer kekuasaan.

Tiga Kali Penundaan
Saya berada di Jakarta ketika pihak Arianespace memutuskan untuk menunda peluncuran BRIsat. Saya juga mendengarkan penjelasannya. Sangat detail dan teknis, tetapi saya paham maksudnya. Padahal dini hari itu, pukul 02.00 WIB, saya sudah dijemput sebuah stasiun TV. Pukul 06.00 berikutnya saya juga sudah meluncur ke Terminal 3 Ultimate dan akhirnya kepala saya pusing, dua hari saya terkapar di sebuah kamar perawatan.

Besoknya BRIsat melesat ke angkasa, tapi T3U belum bisa dipakai para pemudik. Tapi saya tetap minta teman-teman di Angkasa Pura II terus memperbaiki kekurangan yang ada, berikan yang terbaik.

Kesan saya, sebagai perusahaan yang sangat berpengalaman dalam peluncuran satelit, Arianespace memilih bertindak ekstra-hati-hati. Maklum investasi BRI untuk BRIsat tidak sedikit. Hampir Rp3,4 triliun. Tapi Terminal T3U juga tak kalah besar investasinya, sekitar Rp7 triliun. Semua itu tentu dilakukan untuk mengatasi ketertinggalan.

Selain itu Arianespace tentu juga memiliki standard operating procedure (SOP) yang sangat ketat. Soal ini Arianespace tak mau toleran sama sekali. Kalau kondisi tak sesuai dengan SOP, mereka lebih baik tak meluncurkan satelit sama sekali. Ini harga mati. Bahkan 20 menit sebelum launching, peluncuran satelit itu pun nyaris ditunda lagi. Tapi alhamdulillah, puji Tuhan, masalah segera diatasi.

Hal lain yang membuat saya sangat terkesan adalah budaya kerja Arianespace. Setiap kali ada masalah, mereka membahasnya secara detail guna mencari solusi dan—ini yang menarik— sinergi. Bukan malah gontok-gontokan dan sibuk mencari siapa yang salah. Ini budaya yang patut kita tiru dan kembangkan di negeri ini. Negeri yang kalau ada masalah, yang pertama dicari adalah siapa yang paling bisa dipersalahkan. Bukan mencari masalahnya apa, lalu menemukan solusinya terlebih dahulu. Apalagi dengan memakai pendekatan yang sinergis. Maksudnya semua pihak diajak memberikan kontribusi. Diajak bekerja sama.

Mendisrupsi Diri Sendiri
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari peluncuran BRIsat dan tertundanya pengoperasian Terminal 3 Ultimate? Pertama, jelas kita bisa belajar dari Arianespace. Ketika ada masalah, yang pertama mereka cari adalah masalah dan solusi. Senyampang mencari solusi, mereka dengan tangan terbuka menggandeng pihak-pihak lain untuk diajak bekerja sama. Saya garis bawahi: kerja sama. Itulah yang belakangan saya rasakan mulai menghilang di negeri ini.

Bukan hanya di masyarakat, bahkan fenomena menipisnya kerja sama ini sangat terasa di jajaran pemerintahan. Presiden Joko Widodo sudah mengatakan dari awal, tak ada lagi visi menteri. Tapi, mohon maaf, harus saya katakan kerja sama ini amat mahal di negeri kita sendiri. Kalau ada kesalahan, yang pertama-tama di cari siapa yang mau di-blame, baru dicari-cari apa yang mau di-blame. Karena itu masalahnya bisa menjadi rumit.

Kedua, BRI adalah bank pertama di dunia yang memiliki satelit sendiri. Ini membanggakan, tetapi di sisi lain juga menyimpan tantangan. Apa tantangannya? Anda tahu banyak perkembangan teknologi yang mendisrupsi bisnis-bisnis model lama. Istilah change kini memasuki babak baru: disrupsi. Dan ini menyangkut inovasi yang berlangsung sejak 20 tahun terakhir, yang puncaknya tengah terjadi saat ini. Ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di dunia. Ini adalah topik kajian yang sedang saya rampungkan dalam revisi edisi buku Change yang saya tulis 10 tahun lalu.

Dan ketidakpahaman negara terhadap dampak dan proses inovasi disruption yang tengah melanda dunia dapat membiarkan lembaga perbankan dan jajaran regulator mengatur pembiayaan dan perizinan dengan cara-cara yang counter-productive. Alih-alih menumbuhkan inovasi positif, dunia usaha malah diarahkan pada inovasi efisiensi yang bertentangan dengan semangat penciptaan pekerjaan.

Inovasi disruption dalam beberapa hal memang bisa berdampak buruk bagi bisnis incumbent yang keras kepala dan kurang meremajakan diri, tapi berdampak luas bagi penciptaan lapangan pekerjaan baru. Kita di Tanah Air juga menyaksikannya.

Korbannya, hampir semua incumbent yang selama ini berjaya sampai awal abad ke-21 ini. Jangan cuma lihat usaha taksi saja, tapi hampir semua, termasuk partai-partai politik yang sedang merintih kesakitan melihat langkah dukungan publik terhadap jalur independen.

Di luar itu, disruption tengah terjadi dalam bisnis-bisnis pendidikan, pelayanan keagamaan, perhotelan, perjalanan wisata, kebandaraan, pelabuhan, media massa, sampai termasuk bisnis perbankan. Ini bukan masalah sepele, melainkan turut berkontribusi terhadap pelemahan negara dalam penerimaan pajak dan shifting bisnis yang selama ini kambing hitamnya dianggap ada di pelambatan ekonomi Tiongkok atau dampak kebijakan moneter yang diambil The Fed. Tapi nantilah kita dalami soal ini.

Untuk sementara, saya ajak Anda kembali ke perbankan karena soal lain-lain akan saya bahas terpisah. Saat ini perbankan kita tengah berancang-ancang menghadapi gempuran dari lembaga keuangan digital— yang sudah mempreteli bisnis perbankan konvensional di negara-negara maju.

Anak-anak muda di seluruh dunia, menurut Millenials Disruption Index, kini sudah tak tertarik dengan perbankan konvensional. Mereka ingin mendapatkan layanan finansial dari Google, Facebook, atau Amazon.

Gila bukan? Padahal kini bukan cuma mereka. Apple saja sudah menguasai metode pembayaran (Apple Pay), belum lagi perusahaan seperti Home Depot yang mulai dituntut pasar membiayai pinjaman mortgage.

Maka, BRI tak perlu meniru bisnis transportasi konvensional kita yang berteriak meminta perlindungan pemerintah. Dengan modal BRIsat, saya ingin BRI melompat tak hanya selangkah ke depan, tetapi dua atau tiga langkah sekaligus. Bagaimana caranya? BRI memakai BRIsat untuk mendisrupsi bisnis-bisnisnya sendiri. Jargonnya: manage your company like a startup! Lalu perkuat lini bisnisnya dengan kehadiran satelit sendiri.

Menurut saya, banyak unit bisnis perbankan yang sudah tak layak lagi karena ongkosnya yang terlalu mahal. Bisnis kredit, misalnya, skema yang ada di bisnis perbankan konvensional terlalu bertele-tele. Prosesnya terlalu berbelit-belit dan mahal. Akibatnya debitor harus menanggung ongkosnya dengan suku bunga yang tinggi. Ingat model bisnis yang dikembangkan para disruptor bukan hanya harus save money, melainkan juga save time.

Ini modal besar untuk menjalani misi inklusi keuangan yang sebagian besar berada di jalur nonkonvensional, luar pulau besar dan informal.

Bisnis ATM juga saya anggap sangat mahal. Mungkin sebentar lagi juga tergilas dengan hadirnya uang digital. Lalu untuk apa juga bank-bank terus membuka kantor-kantor cabang yang besar-besar? Itu era owning economy yang mahal, bukan sharing economy. Dan masih banyak lagi bisnis perbankan konvensional kita yang perlu didisrupsi oleh bisnis-bisnis finansial yang berbasis teknologi (financial technology atau fintech).

Beranikah BRI? Saya harap begitu. Sayang kalau investasi BRIsat yang sudah begitu besar tidak dimanfaatkan secara optimal. Saya melihatnya ini sebagai sebuah peluang besar.

oleh Rhenald Kasali
disadur dari Koran Sindo, Kamis, 23 Juni 2016

Kamis, 23 Juni 2016

Jurus Penjaga Gawang



Michael Bar-Eli dan Rolf Dobelli punya pendekatan menarik dalam menjelaskan perilaku penjaga gawang ketika menghadapi tendangan penalti. Kita tahu bahwa dalam pertandingan sepak bola, tendangan penalti adalah ujian besar bagi penjaga gawang sekaligus bagi eksekutornya. Ini semacam pertaruhan kemampuan satu lawan satu antara sang penjaga dan sang penendang.

Tendangan penalti paling tidak ada dua macam. Pertama, hukuman atas pelanggaran yang terjadi di kotak dekat gawang. Kedua, adu penalti yang merupakan penentuan pemenang setelah pertandingan berlangsung seri selama dua babak ditambah dengan dua kali perpanjangan waktu.

Dalam menghadapi tendangan penalti, penjaga gawang harus beraksi super cepat atas tembakan eksekutor dari tim lawan. Waktu yang diperlukan bola untuk meluncur dari titik penalti mencapai gawang pada umumnya kurang dari 0,3 detik. Dalam periode yang sangat singkat itulah sang penjaga gawang harus memutuskan ke mana tubuh dan anggota badannya digerakkan untuk mencegah bola masuk ke dalam gawang.

Katakanlah kita bagi gawang menjadi tiga bagian: sebelah kiri, sebelah kanan, serta bagian tengah. Posisi penjaga gawang pada awalnya selalu berada di tengah. Secara matematis, peluang bola untuk ditendang ke bagian kiri, kanan, dan tengah adalah sama, yakni satu per tiga.

Lalu, mengapa lebih banyak penjaga gawang yang melompat ke kiri atau ke kanan mengantisipasi tendangan, dan mengapa sangat jarang penjaga gawang yang tetap berada di tengah-tengah?

Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly, menjelaskan hal ini. Menyitir penelitian dari Michael Bar-Eli yang telah mengevaluasi ratusan tendangan penalti, dia menyebut tindakan penjaga gawang ini sebagai bias aksi.

“Akan terlihat lebih berkesan dan terasa tidak terlalu memalukan untuk menukik ke sisi yang salah daripada membeku di tempat dan memperhatikan bola bergerak lewat,” begitu penjelasannya.

Dobelli bahkan menyajikan kesimpulan yang lebih menohok soal ini: “Tampillah aktif, bahkan jika tidak ada hasilnya.”

Penjelasan Bar-Eli yang dikutip Dobelli itu ditulis dalam Action bias among elite soccer goalkeepers: The case of penalty kicks yang dimuat dalam sebuah jurnal psikologi ekonomi tahun 2007.

Michael Bar-Eli melakukan observasi terhadap 286 tendangan penalti yang terjadi dalam liga dan pertandingan kelas dunia. Berdasarkan pengamatan atas distribusi arah bola, dia menyimpulkan bahwa sebenarnya strategi yang paling optimal bagi penjaga gawang adalah tetap berada di tengah. Namun umumnya penjaga gawang memilih untuk melompat ke kanan atau ke kiri.

Mungkin para penjaga gawang sungguhan tidak sependapat dengan penjelasan di atas. Para pemain hebat tentu saja bergerak berdasarkan perhitungan tertentu yang didapatkan melalui latihan yang panjang dan teratur. Hal-hal yang tampaknya acak oleh awam seperti lompatan penjaga gawang itu, bisa jadi adalah gerakan yang penuh pertimbangan yang dilakukan oleh ahlinya.

Akan tetapi, survei terhadap 32 penjaga gawang profesional yang dilakukan Bar-Eli menegaskan bahwa melompat ke kiri atau ke kanan ketika menghadapi tendangan penalti merupakan norma umum.

Kalau kita lihat lebih jauh, bias aksi itu sejatinya terjadi di banyak hal. Penjaga gawang hanyalah contoh yang barangkali mudah dipahami di tengah pelaksanaan dua event sepakbola yang menyedot perhatian dunia, Copa America dan Piala Eropa 2016.

Sudah banyak studi mengenai bias aksi, termasuk dampaknya dalam penanganan pertengkaran anak-anak muda yang keluar club malam, langkah investor dalam menghadapi pergerakan saham, serta tindakan dokter yang menghadapi ketidakpastian diagnosis pasien.

Dalam kasus investor, misalnya, wait and see itu tidak populer. Bagi kebanyakan dokter, lebih baik mengintervensi dengan meresepkan sesuatu daripada menunggu perkembangan dan tidak memberikan resep apa-apa.

Siapa pun dalam posisi apa pun berpotensi terkena bias aksi ini. Para pebisnis dan eksekutif puncak tidak lepas dari kemungkinan bias tersebut.  Apalagi ketika menghadapi serbuan baru dari teknologi informasi yang membawa inovasi disruptif. Inovasi disruptif itu seperti tendangan sang jagal penalti: berlangsung cepat, arahnya seringkali membingungkan, dan kalau gagal diantisipasi bisa menyebabkan kekalahan serta kehancuran. Jadi mereka dituntut untuk segera bereaksi, meskipun arah industrinya belum jelas. Mirip seperti tekanan yang dihadapi oleh penjaga gawang untuk segera bergerak.

Pejabat pemerintahan juga tidak lepas dari potensi terjebak bias aksi seperti ini. Apalagi jika ada perubahan rezim yang membawa perubahan prioritas dan pendekatan dalam menjalankan pemerintahan. Upaya menghindari pendekatan business as usual kadangkala berakhir dengan tindakan asal beda dan asal baru.

BusinessDictionary.com menyebut bias aksi sebagai kecenderungan untuk bertindak atau memutuskan tanpa analisis atau informasi yang cukup. Jadi, prinsipnya adalah: lakukan saja, pikirkan kemudian. Konon, istilah ini dipopulerkan oleh Tom Peters dalam In Search of Excellence.

Langkah yang mengandung bias aksi dari penjaga gawang, investor, eksekutif puncak, manajer menengah, sampai dokter, itu tidak selalu salah. Reaksi refleks dari orang terlatih seringkali berhasil. Intuisi dari orang berpengalaman juga biasanya tidak meleset. Apalagi, berdiam diri juga bukan pilihan baik. Ada ungkapan mengenai cost of doing nothing untuk menjelaskan betapa besar risiko berdiam diri, yang mungkin akan ditanggung belakangan. Dalam dunia yang berlangsung cepat kadang mustahil untuk menunggu segala sesuatunya jelas. Atau, ketika semuanya jelas, kondisinya justru sudah terlambat untuk bereaksi.

Akan tetapi, bias aksi seperti diceritakan di atas tentu perlu diwaspadai. Dobelli memberikan penjelasan mengapa manusia sering terjebak dalam bias aksi atau bias penjaga gawang ini. “Dalam suasana yang baru atau mengguncang, kita merasa terpaksa untuk melakukan sesuatu. Apa saja. Setelah itu kita merasa lebih baik, bahkan ketika kita melakukan hal yang lebih buruk dengan beraksi terlalu cepat atau terlalu sering.”

Dia pun mengajukan saran untuk terbebas dari bias penjaga gawang itu. “Kalau situasi tidak jelas, kendalikan diri Anda sampai Anda bisa menganalisis pilihan-pilihan.”
Sebab, mengutip dari Blaise Pascal, “Semua masalah berasal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk sendirian dengan tenang di dalam ruangan.”

Dengan kata lain, kadangkala, wait and see sambil menunggu analisis yang lengkap adalah pilihan bijaksana. Namun, risikonya, reaksi mungkin terlambat. Dampak buruknya bisa berganda, bola terlanjur masuk gawang dan citra sang penjaga gawang hancur. Dalam hal ini, terlalu lama menunggu malah bisa berakhir konyol.

oleh Setyardi Widodo
disadur dari Bisnis, Kamis, 23 Juni 2016