Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rhenald Kasali. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

Jangan Latih Anak-anak Dijemput KBRI...!



Mungkin kita semua sepakat, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar dalam kehidupan. Sayangnya banyak orang tua yang masih berpikir, kalau anaknya juara kelas, pintar di sekolah, pasti akan pintar menjalani hidup.

Untuk itulah sering kita lihat orang tua yang amat protektif, membuat anak merasa sudah belajar walau itu hanya di sekolah. Sedangkan perjalanannya menuju sekolah, pergaulannnya, kebiasaannya mengambil keputusan dalam keadaan sulit, selalu disterilisasi orangtua.

Apalagi bila orang tua punya kuasa, banyak koneksi, punya uang, maka semua itu akan distrerilisasi lebih luas lagi. Padahal yang membentuk orang tuanya hari ini sukses sudah jelas: orangtua mereka tak seprotektif mereka.

Kalau sudah begitu, apa hasilnya?

Anda lihat sendiri, banyak anak-anak pandai di sekolah tak berdaya saat di-bully kawan-kawannya, kurang bergaul, dan bila dikejar anjing di kampung, ia tidak bisa melompat, larinya tercekat.

Dan di usia dewasa, ia bisa menjadi sosok yang sulit bagi teman-teman, pasangan dan kolega-koleganya. Ia akan merasa terus pandai, seakan-akan kecerdasannya tetap, tak berubah.

Ke Luar Negeri, Bagus
Pepatah mengatakan, dunia ini ibarat sebuah buku. Mereka yang tak melakukan perjalanan (hanya kuliah saja), hanya membaca satu halaman.

Terilhami oleh Susi Pudjiastuti, saya pun menugaskan mahasiswa ke mancanegara. Tidak main-main. Satu orang satu negara.

Menteri Kelautan dan Perikanan ini, sejak remaja sudah menyewa truk dari kampungnya di Pangandaran, hanya bersama seorang sopir, ia pergi membeli ikan ke Cirebon atau Indramayu, lalu berjualan ke Pasar Ikan di Jakarta.

Bila dulu saya menugaskan tiga orang satu negara, sejak kehadiran Ibu Susi di kelas itu, saya mengubahnya menjadi satu negara-satu orang.

Syaratnya, tidak boleh di antar, dan tak boleh ada yang menjemput. Itupun harus pergi ke negara yang tak berbahasa Melayu.

Anda tahu siapa musuh program ini?

Para mahasiswa melaporkan, ada dua pihak. Pertama adalah orang tua yang selalu beranggapan anaknya bak princess. Orangtua bahkan merespon dengan negatif, takut anaknya kesasar. Padahal doktrin kelas itu sejak awal sangat jelas, “Berpikir karena kesasar.”

Setiap kali orang tua protes, saya selalu bilang, “Memang kalau tersasar, mengapa?”

Dari situ, sebagian tiba-tiba tersentak dan tertegun sendiri karena hampir semua orangtua pasti pernah kesasar, dan toh akhirnya pulang juga dengan selamat. Malah menjadi semakin pandai, lebih percaya diri.

Sebagian lagi, responsnya begitulah, memindahkan anaknya ke kelas lain. 

Mereka mengambil keputusan untuk anaknya yang sudah dewasa dengan menghentikan sebuah proses belajar yang penting untuk membangun hidup mereka.

Orangtua juga mengatur banyak hal. Tiket pesawat, rute tujuan, menginap di mana, siapa yang jemput, makan apa, pakaian dan perlengkapan, sampai SIM Card dan obat-obatan.

Padahal anaknya gaul, sehat, senang berpetualang. Dan kalau diatur, ia 
malah menjadi merasa tak dipecaya, bahkan malu dengan kawan-kawannya.

Bagi saya, ini semua bisa membuat anak kurang terlatih menghadapi kesulitan. Sebab setiap kali menghadapi persoalan kecil saja, mereka bisa menghindar dan cepat-cepat minta bantuan.

Dan musuh kedua adalah, para dosen sendiri. Ya, para akademisi percaya anak pintar itu tak boleh banyak bermain. Baca, baca, baca, buat tugas. Padahal anak-anak pintar itu terlalu serius, terlalu steril dan kurang bermain.

Anda tahu apa yang dilakukan orang tua agar anak-anaknya diterima di perguruan tinggi yang bagus?

Mungkin Anda bisa lihat bagaimana treatment orang tua sejak anaknya masih kecil. Jangankan untuk menuju perguruan tinggi, untuk diterima di SMP yang bagus saja, sejak kelas 5 SD anak-anak itu sudah dilatih pulang sore/malam hari, ikut les ini dan itu. Katanya untuk diterima di SMP A harus ikut bimbel di B.

Kalau sudah begitu, anak-anak yang pandai ini menjadi kurang bergaul dan menjadi kurang asyik di mata teman-temannya. Mereka dicetak dalam alam berpikir bahwa pandai dalam kehidupan itu ada di ruang kelas, melalui program tertulis. Padahal pandai itu adalah mampu mengambil keputusan yang tepat. 

Bayangkan, bila sejak kecil sampai dewasa anak-anak itu tak pernah berlatih mengambil keputusan dalam keadaan sulit. Bahkan untuk naik taksi saja ia tak berani.

Pergi ke luar negeri seorang diri, bagi seorang anak ia akan belajar banyak hal. Bagaimana kalau ketinggalan pesawat, kehilangan bagasi, kesasar, diganggu orang, mengunjungi situs-situs penting, mengatur waktu, makan, dan seterusnya.

Mengapa harus dijemput?
Kisah anak-anak pejabat yang orang tuanya begitu bernafsu mengatur dan mengawal anak-anaknya agar tak kesasar di luar negeri, saat ini sudah amat keterlaluan. Orang tua telah mengambil hak-hak penting si anak untuk menjadi rajawali.

Anak diasumsikan sebagai sosok yang tak mampu bergerak sendiri, dan seakan-akan alam tak memberi ruang bagi anak untuk belajar. Padahal, anak SLB sekalipun punya kemampuan belajar yang luar biasa kalau diberi kesempatan, dan sebaliknya kalau dianggap bodoh.

Mungkin anda sudah menerima catatan seorang dosen di Surabaya yang viral dua hari ini. Sayang, saya tak menemukan sumbernya setelah beredar dari satu WA ke WA lainnya. Tapi saya kira apa yang dilakukan untuk merekam momen yang ia lihat dan catat harus kita hargai. Ini sebuah catatan yang istimewa bagi para orangtua dan pendidik.

Ia mencatat kejadian saat menemukan seorang siswa SLB penderita tunagrahita yang begitu bahagia saat menemukan alamat yang dicari. Siswa itu kabarnya diberangkatkan dari Jogja untuk mencari alamat di Surabaya.

"Syaratnya boleh bertanya, namun tidak boleh diantar, tidak boleh naik kendaraan yang bersifat mengantar seperti taxi dan becak. Tidak boleh meminta-minta. Dan masih banyak aturan lain. Bahkan dia mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya." Catat orang berjasa ini.

Tapi yang membuat saya tercengang adalah catatannya yang ini: "Dia berkata bahwa dia dilarang bersedih. "Kata Pak Guru aku ngga boleh sedih, kalau sedih nanti bodoh lagi", ucapnya polos."

Sekarang tinggallah kita memeriksa apa yang telah kita lakukan pada anak-anak kita. Apakah benar kita telah melatih anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang hebat, rajawali yang matanya tajam dan mampu terbang tinggi, atau menjadikan mereka burung dara yang indah, yang sayap-sayapnya terjahit.

Anak-anak yang dijemput dengan fasilitas yang dimiliki orangtua akan kehilangan banyak momen yang bisa membuat ia kelak lebih pandai dalam hidup.

Kisah anak-anak saya di Fakultas Ekonomi yang pergi ke luar negeri sudah dibukukan oleh mereka sendiri dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Edisi terbaru juga telah disiapkan anak-anak itu dalam episode Duta Perdamaian.

Ketika mendengarkan presentasi mereka, saya selalu belajar bahwa anak-anak hebat ini kelak akan menjadi lebih hebat lagi. Dengan metode sharing economy, mereka kini bisa menyebar ke mancanegara dengan biaya minimal.

Tak terbayangkan bagaimana mahasiswi saya yang dompetnya hilang di London bisa tetap menyelesaikan misinya hingga ke Skotlandia, menembus dua negara selama 10 hari dengan sehat.

Tak terbayangkan bagaimana mereka mengajarkan dua perempuan Jepang memakai hijab. Tak terpikirkan pula bagaimana mereka berkenalan dengan anak-anak konglomerat dan dijadikan narasumber di berbagai kampus yang mereka kunjungi.

Anak-anak yang steril tak punya cerita menurut versi mereka sendiri. Dan anak-anak itu bisa jadi pembual yang hebat. Tetapi anak-anak yang tak dijemput KBRI kalau ke luar negri, yang berani menghadapi hidup ini dalam perhitungan yang dilatih sendiri, kelak akan mempunyai story versi mereka sendiri.

Personal story adalah modal dasar seorang pemimpin. Ia akan merasa hidupnya berarti, dan sadar bahwa di luar sekolah ada banyak pelajaran yang bisa melatih kepemimpian, empati sosial dan pemgambilan keputusan.

Jadi, sudahlah. Hentikan dagelan ini, orangtua!

oleh Rhenald Kasali
disadur dari Kompas, Kamis, 30 Juni 2016

Orang-Orang Hebat dan Perubahan



Mungkin karena “berada di dalam”, kita kerap tak sadar bahwa perubahan terjadi di mana-mana. Meluas dan dalam skala yang masif. Ada perubahan yang dipicu teknologi, tapi ada juga perubahan yang disebabkan kondisi sosial kemasyarakatan. Saya bersyukur sebab dalam beberapa kasus perubahan itu menawarkan nilai-nilai yang positif. Contohnya berikut ini.

Setiap kali bicara tentang polisi jujur dan pemberani, ingatan kita langsung mengarah kepada sosok Hoegeng, Kapolri 1968-1971. Padahal, Hoegeng—nama lengkapnya Hoegeng Imam Santoso— sudah meninggalkan kita sejak 14 Juli 2004.

Tapi, presiden kita yang jenaka, Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, menambahkan dua lagi. Keduanya adalah polisi tidur dan patung polisi. Sayangnya, Gus Dur juga sudah meninggalkan kita pada 30 Desember 2009. Kalau tidak, ia pasti akan punya tambahan daftar polisi jujur lainnya.
Siapa saja mereka?

Namanya Seladi. Ia anggota Satlantas Polres Kota Malang, Jawa Timur, dengan pangkat brigadir polisi kepala (bripka). Jangan lihat kata “kepala”-nya. Meski sudah 39 tahun menjadi polisi, ia sama sekali bukan atasan di sana. Sehari-hari Bripka Seladi bekerja di bagian pengujian SIM A. Gajinya Rp5,7 juta per bulan. Hidup dengan tiga anak, gaji sebesar itu jelas tak cukup. Apalagi ia punya banyak cicilan utang yang harus dibayar—di antaranya karena bisnis sebelumnya bangkrut.

Maka Seladi menutupi kekurangan kebutuhan keluarganya dengan menjadi pemulung. Padahal posisinya di bagian pengujian SIM—yang menentukan lolos tidaknya seseorang saat ujian SIM—memungkinkan Seladi mengutip dari kiri-kanan. Atau menerima suap. Tapi Seladi tidak memilih jalan itu. Ia memilih mencari rezeki bersih dengan menjadi pemulung. Seladi adalah sosok polisi yang jujur.

Masih ada lagi polisi jujur lainnya. Ia Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Mustamin. Sebagai polisi dengan pangkat rendahan di Polsekta Ujungpandang, Sulawesi Selatan, gaji Mustamin paspasan. Untuk menutupi kebutuhan keluarganya, selepas jam kantor, Mustamin menjadi tukang tambal ban. Ia sudah melakoni itu selama 20 tahun.

Di Aceh ada Aiptu Ruslan. Sehari-hari ia Kanit Binmas di Polsek Pidie. Selepas jam kerja, Ruslan bekerja sebagai tukang sol sepatu.

Tiga polisi tadi punya sejumlah kesamaan. Mereka sudah bertahun-tahun menjadi polisi. Meski gajinya pas-pasan, mereka tak mau menerima uang haram, uang suap, dan korupsi. Mereka hanya mau terima uang halal meski untuk itu harus rela menjadi pemulung, penambal ban, atau tukang sol sepatu.

Tiga Sosok Lainnya
Baiklah kita cari orang-orang jujur dan pemberani lainnya. Di masa lalu, selain Hoegeng, nama yang kerap disebut-sebut adalah Hakim Agung Bismar Siregar dan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Keduanya adalah petinggi di lingkungan penegak hukum dan sudah lama meninggalkan kita. Meski masuk jajaran elite negara ini, gaya hidup keduanya sangat sederhana.

Tapi, itu dulu. Sekarang kalau bicara orang jujur atau pemberani, referensinya sudah lain sama sekali. Baiklah saya angkat tiga di antaranya— sosok-sosok yang mungkin tidak Anda kenal sama sekali.

Pertama, Agus Chaerudin, 35 tahun. Ia office boy di Bank Syariah Mandiri Cabang Kalimalang, Bekasi. Ketika sedang melakukan pekerjaan rapi-rapi, Agus menemukan bundel uang Rp100 juta di lantai dekat tempat sampah. Apa yang Anda lakukan jika berada dalam posisi seperti Agus?

Saya tak ingin berandai-andai. Silakan Anda renungkan sendiri. Saya hanya ingin menceritakan apa yang dilakukan Agus. Ia melapor ke petugas satpam dan kemudian menyerahkan uang tersebut ke atasannya. Mungkin saja Agus tergiur, tapi ia kuat melawan godaan. Maka ia tak mengambil selembar pun uang dari bundel tersebut. Ia ingat betul ajaran agamanya, Jangan ambil apa pun yang bukan menjadi hak kamu.” Agus juga sangat terinspirasi dengan kisah Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad SAW, yang mengutamakan kesederhanaan dan kejujuran.

Sosok kedua bernama Mulyadi, 32 tahun. Ia bekerja sebagai petugas cleaning service di Mal Kota Kasablanka, Jakarta. Saat membersihkan toilet mal, Mulyadi menemukan tas tercecer. Ia mengambil tas tersebut dan menyerahkannya ke customer service. Saat dibuka, isinya uang Rp100 juta. Lagi, apa yang Anda lakukan jika berada dalam posisi seperti Mulyadi?

Sosok ketiga adalah pengemudi taksi bernama Suharto, 53 tahun. Suatu ketika ada dua warga Australia yang naik taksinya. Setelah mengantar mereka ke tempat tujuan, sekitar pukul 02.00, Suharto langsung kembali ke rumah. Ia sama sekali belum sadar kalau ada tas yang tertinggal di taksinya. Beberapa jam kemudian, Suharto pun menerima pesan pendek dari penumpangnya tadi yang menginformasikan bahwa tasnya tertinggal di taksi. Isinya uang Rp100 juta. Suharto kaget. Ia memeriksa taksinya. Benar, tas itu tergeletak di belakang kursinya. Ia lalu bergegas mengantarkan tas tersebut kepada pemiliknya.

Mbah Ratmo dan Daffa
Itu tadi cerita tentang tiga orang yang berani jujur. Mereka jelas orang-orang hebat. Hidupnya lurus. Supaya lengkap, kali ini saya ingin menambahkan cerita tentang orang-orang hebat dengan dua sosok yang saya nilai pemberani.

Pertama, namanya Sumarjono, 63 tahun, kakek dengan enam cucu. Suatu ketika saat melintas di Jalan Suratmo di Semarang Barat, di dekat rumahnya, Sumarjono menyaksikan seorang perempuan muda disambar sepeda motor yang sedang melakukan balapan liar. Perempuan itu terkapar, tertindih sepeda motor. Pelakunya kabur.

Peristiwa tersebut menginspirasi Sumarjono. Dengan berbekal sebatang tongkat, Sumarjono dengan berani membubarkan aksi balap liar yang sering dilakukan di jalan itu. Nyaris setiap malam. Pernah ketika membubarkan aksi tersebut, Sumarjono dikeroyok. Ia melawan dengan senjata tongkatnya. Pengeroyoknya bubar meski hidung Sumarjono terluka dan berdarah. Kini, berkat aksinya yang berani, jalan tersebut sepi dari aksi balap liar. Masyarakat setempat kemudian menjuluki Sumarjono dengan Mbah Ratmo, sebutan yang diambil dari nama jalan tersebut.

Kalau sosok pemberani pertama adalah seorang kakek, sosok kedua sebaliknya. Ia masih kanak-kanak. Namanya Daffa, ia siswa kelas IV SD di Semarang. Setiap pukul 15.00, seusai mengerjakan PR, Daffa keluar rumah. Ia memarkir sepeda di trotoar jalan untuk mencegah sepeda motor lewat. Kalau ada pengendara sepeda motor yang ngotot, memaksa melintas, Daffa akan lebih ngotot lagi. Daffa memang anak pemberani.

Baiklah, sekarang apa yang bisa kita tangkap dari cerita ini? Jelas sekali, dulu contoh sosok jujur dan pemberani datang dari kalangan elite. Kapolri, hakim agung dan jaksa agung adalah sosok elite. Kini, terjadi perubahan. Sosok itu justru datang dari lapisan bawah. Rakyat biasa, seperti kita semua.

Di mana teladan dari para pemimpin? Padahal, pemimpin itu ibarat sumbu roda. Kalau dia bergerak sedikit, lapisan bawahnya akan lebih banyak bergerak. Jadi kalau dia bisa memberi teladan, akan banyak jajaran di bawahnya yang meniru. Kalau itu terjadi, saya yakin tak ada negara mana pun di dunia yang mampu menandingi kehebatan Indonesia.

Saya berharap kisah Seladi, Mustamin, Ruslan, Mbah Ratmo dan Daffa bisa menginspirasi kita dalam mengisi Ramadhan 2016. Selamat merayakan Idul Fitri 1437 H. Selamat mudik dan bertemu keluarga, kerabat, teman masa kecil. Sebuah kebahagiaan yang kita miliki bersama.

oleh Rhenald Kasali
disadur dari Koran Sindo, Kamis, 30 Juni 2016