Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label perilaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perilaku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

Memaafkan Itu Sehat

Agama selalu memberi pujian kepada orang yang saling memaafkan. Jika berbuat salah jangan segan-segan mengakui kesalahannya serta meminta maaf dan pihak yang dimintai jangan pelit untuk memaafkan.

Semuanya hendaknya dilakukan dengan tulus. Bahkan sekalipun terhadap musuh, memaafkan itu tindakan yang terpuji. Namun ihwal maaf-memaafkan ini pada praktiknya tidak semudah membicarakannya. Baik meminta maupun memberi maaf itu berat. Jika itu terjadi antarnegara, praktiknya semakin berat karena ada unsur gengsi dan harga diri sebuah negara.

Kebenaran ajaran agama tentang maaf-memaafkan ini tidak sulit dibuktikan secara empiris dengan bantuan ilmu jiwa. Orang yang hatinya dipenuhi rasa marah, dendam, dan kecewa kepada orang lain pasti terasa berat membawanya. Bayangkan, orang membawa beban fisik saja meskipun ringan jika terus-menerus dibawa pasti akan letih, capai. Lama-lama akan terasa semakin berat.

Begitu juga halnya orang yang menyimpan kejengkelan dan kebencian di hati, lamalama akan semakin terasa berat jika tidak dilepaskan. Ada orang yang melepaskan kebencian dengan cara menumpahkannya kepada orang yang dibenci. Apa yang terjadi? Bisa jadi akan lepas sementara, tapi setelahnya justru akan membesar jika terjadi perlawanan balik.

Perhatikan saja, sering terjadi perkelahian fisik yang bermula dari adu mulut. Akibatnya luka di hati kian menganga. Makanya cara terbaik mengurangi beban yang menjadi penyakit hati adalah saling memaafkan. Ketika orang memaafkan dengan tulus, yang pertama diuntungkan adalah pihak yang memaafkan karena dengan begitu dia telah menaruh dan membuang beban di hatinya.

Ada sebuah eksperimentasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya. Mereka disuruh membawa kentang masing-masing lima biji. Lalu anak-anak diminta menuliskan nama lima orang yang mereka benci. Setelah itu dimasukkan di kantong plastik dan dibiarkan terbuka, tidak boleh diikat rapat.

Kantong berisi kentang itu mesti dibawa ke mana pun mereka berada, bahkan juga ketika mau tidur agar diletakkan di sampingnya atau ke kamar kecil, selama seminggu. Sebelum hari kelima, anakanak mulai mencium bau kentang busuk. Muncul rasa risi. Mereka menanti tibanya hari pembebasan, hari ketujuh.

Tiba harinya anak-anak pergi ke sekolah dengan semangat karena sudah tak tahan lagi dengan bau busuk itu. Lalu bu guru menyuruh membuang kentang busuk itu. Namun sebelumnya bu guru bertanya kepada murid-muridnya, ”Bagaimana pengalamanmu dengan kentang-kentang yang kamu bawa itu?” Murid menjawab, ”Bau Bu, kami tidak tahan. Seminggu serasa lama sekali ke mana-mana diikuti bau busuk.”

Bu guru pun meneruskan nasihatnya. Begitulah contoh nyata yang sudah mereka rasakan dan alami sendiri bahwa jika anak-anak itu menyimpan hati busuk berupa kebencian, iri, dan dengki, mereka sendiri yang akan tersiksa dan merugi. Tapi begitu kentang busuk itu dibuang, legalah hati anak-anak semua.

Merasa terbebaskan dari penderitaan bau busuk. Begitu juga halnya jika anak-anak menjaga hatinya selalu bersih, saling memaafkan, pasti hati serasa lapang dan hidup nyaman dijalani. Demikianlah, di balik perintah agama agar kita saling menolong dan maaf-memaafkan, secara empiris ternyata kebaikannya kembali kepada manusia.

Allah tidak mengambil keuntungan dari kebaikan hamba-Nya, tidak juga dirugikan atas kejahatan hamba-Nya. Allah tetap Maha Agung, terlepas manusia akan menyembah- Nya ataukah tidak. Allah tetap Maha Kaya dan mandiri, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau mengingkari anugerah rezeki- Nya. Maaf-memaafkan ini tidak saja ketika datang hari Lebaran, tetapi jika ingin hidup sehat, setiap saat sebaiknya hal itu kita lakukan jika kita merasa terjadi gesekan dengan keluarga atau teman.

oleh Komaruddin Hidayat
disadur dari Koran Sindo, Jum’at, 1 Juli 2016

Jangan Latih Anak-anak Dijemput KBRI...!



Mungkin kita semua sepakat, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar dalam kehidupan. Sayangnya banyak orang tua yang masih berpikir, kalau anaknya juara kelas, pintar di sekolah, pasti akan pintar menjalani hidup.

Untuk itulah sering kita lihat orang tua yang amat protektif, membuat anak merasa sudah belajar walau itu hanya di sekolah. Sedangkan perjalanannya menuju sekolah, pergaulannnya, kebiasaannya mengambil keputusan dalam keadaan sulit, selalu disterilisasi orangtua.

Apalagi bila orang tua punya kuasa, banyak koneksi, punya uang, maka semua itu akan distrerilisasi lebih luas lagi. Padahal yang membentuk orang tuanya hari ini sukses sudah jelas: orangtua mereka tak seprotektif mereka.

Kalau sudah begitu, apa hasilnya?

Anda lihat sendiri, banyak anak-anak pandai di sekolah tak berdaya saat di-bully kawan-kawannya, kurang bergaul, dan bila dikejar anjing di kampung, ia tidak bisa melompat, larinya tercekat.

Dan di usia dewasa, ia bisa menjadi sosok yang sulit bagi teman-teman, pasangan dan kolega-koleganya. Ia akan merasa terus pandai, seakan-akan kecerdasannya tetap, tak berubah.

Ke Luar Negeri, Bagus
Pepatah mengatakan, dunia ini ibarat sebuah buku. Mereka yang tak melakukan perjalanan (hanya kuliah saja), hanya membaca satu halaman.

Terilhami oleh Susi Pudjiastuti, saya pun menugaskan mahasiswa ke mancanegara. Tidak main-main. Satu orang satu negara.

Menteri Kelautan dan Perikanan ini, sejak remaja sudah menyewa truk dari kampungnya di Pangandaran, hanya bersama seorang sopir, ia pergi membeli ikan ke Cirebon atau Indramayu, lalu berjualan ke Pasar Ikan di Jakarta.

Bila dulu saya menugaskan tiga orang satu negara, sejak kehadiran Ibu Susi di kelas itu, saya mengubahnya menjadi satu negara-satu orang.

Syaratnya, tidak boleh di antar, dan tak boleh ada yang menjemput. Itupun harus pergi ke negara yang tak berbahasa Melayu.

Anda tahu siapa musuh program ini?

Para mahasiswa melaporkan, ada dua pihak. Pertama adalah orang tua yang selalu beranggapan anaknya bak princess. Orangtua bahkan merespon dengan negatif, takut anaknya kesasar. Padahal doktrin kelas itu sejak awal sangat jelas, “Berpikir karena kesasar.”

Setiap kali orang tua protes, saya selalu bilang, “Memang kalau tersasar, mengapa?”

Dari situ, sebagian tiba-tiba tersentak dan tertegun sendiri karena hampir semua orangtua pasti pernah kesasar, dan toh akhirnya pulang juga dengan selamat. Malah menjadi semakin pandai, lebih percaya diri.

Sebagian lagi, responsnya begitulah, memindahkan anaknya ke kelas lain. 

Mereka mengambil keputusan untuk anaknya yang sudah dewasa dengan menghentikan sebuah proses belajar yang penting untuk membangun hidup mereka.

Orangtua juga mengatur banyak hal. Tiket pesawat, rute tujuan, menginap di mana, siapa yang jemput, makan apa, pakaian dan perlengkapan, sampai SIM Card dan obat-obatan.

Padahal anaknya gaul, sehat, senang berpetualang. Dan kalau diatur, ia 
malah menjadi merasa tak dipecaya, bahkan malu dengan kawan-kawannya.

Bagi saya, ini semua bisa membuat anak kurang terlatih menghadapi kesulitan. Sebab setiap kali menghadapi persoalan kecil saja, mereka bisa menghindar dan cepat-cepat minta bantuan.

Dan musuh kedua adalah, para dosen sendiri. Ya, para akademisi percaya anak pintar itu tak boleh banyak bermain. Baca, baca, baca, buat tugas. Padahal anak-anak pintar itu terlalu serius, terlalu steril dan kurang bermain.

Anda tahu apa yang dilakukan orang tua agar anak-anaknya diterima di perguruan tinggi yang bagus?

Mungkin Anda bisa lihat bagaimana treatment orang tua sejak anaknya masih kecil. Jangankan untuk menuju perguruan tinggi, untuk diterima di SMP yang bagus saja, sejak kelas 5 SD anak-anak itu sudah dilatih pulang sore/malam hari, ikut les ini dan itu. Katanya untuk diterima di SMP A harus ikut bimbel di B.

Kalau sudah begitu, anak-anak yang pandai ini menjadi kurang bergaul dan menjadi kurang asyik di mata teman-temannya. Mereka dicetak dalam alam berpikir bahwa pandai dalam kehidupan itu ada di ruang kelas, melalui program tertulis. Padahal pandai itu adalah mampu mengambil keputusan yang tepat. 

Bayangkan, bila sejak kecil sampai dewasa anak-anak itu tak pernah berlatih mengambil keputusan dalam keadaan sulit. Bahkan untuk naik taksi saja ia tak berani.

Pergi ke luar negeri seorang diri, bagi seorang anak ia akan belajar banyak hal. Bagaimana kalau ketinggalan pesawat, kehilangan bagasi, kesasar, diganggu orang, mengunjungi situs-situs penting, mengatur waktu, makan, dan seterusnya.

Mengapa harus dijemput?
Kisah anak-anak pejabat yang orang tuanya begitu bernafsu mengatur dan mengawal anak-anaknya agar tak kesasar di luar negeri, saat ini sudah amat keterlaluan. Orang tua telah mengambil hak-hak penting si anak untuk menjadi rajawali.

Anak diasumsikan sebagai sosok yang tak mampu bergerak sendiri, dan seakan-akan alam tak memberi ruang bagi anak untuk belajar. Padahal, anak SLB sekalipun punya kemampuan belajar yang luar biasa kalau diberi kesempatan, dan sebaliknya kalau dianggap bodoh.

Mungkin anda sudah menerima catatan seorang dosen di Surabaya yang viral dua hari ini. Sayang, saya tak menemukan sumbernya setelah beredar dari satu WA ke WA lainnya. Tapi saya kira apa yang dilakukan untuk merekam momen yang ia lihat dan catat harus kita hargai. Ini sebuah catatan yang istimewa bagi para orangtua dan pendidik.

Ia mencatat kejadian saat menemukan seorang siswa SLB penderita tunagrahita yang begitu bahagia saat menemukan alamat yang dicari. Siswa itu kabarnya diberangkatkan dari Jogja untuk mencari alamat di Surabaya.

"Syaratnya boleh bertanya, namun tidak boleh diantar, tidak boleh naik kendaraan yang bersifat mengantar seperti taxi dan becak. Tidak boleh meminta-minta. Dan masih banyak aturan lain. Bahkan dia mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya." Catat orang berjasa ini.

Tapi yang membuat saya tercengang adalah catatannya yang ini: "Dia berkata bahwa dia dilarang bersedih. "Kata Pak Guru aku ngga boleh sedih, kalau sedih nanti bodoh lagi", ucapnya polos."

Sekarang tinggallah kita memeriksa apa yang telah kita lakukan pada anak-anak kita. Apakah benar kita telah melatih anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang hebat, rajawali yang matanya tajam dan mampu terbang tinggi, atau menjadikan mereka burung dara yang indah, yang sayap-sayapnya terjahit.

Anak-anak yang dijemput dengan fasilitas yang dimiliki orangtua akan kehilangan banyak momen yang bisa membuat ia kelak lebih pandai dalam hidup.

Kisah anak-anak saya di Fakultas Ekonomi yang pergi ke luar negeri sudah dibukukan oleh mereka sendiri dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Edisi terbaru juga telah disiapkan anak-anak itu dalam episode Duta Perdamaian.

Ketika mendengarkan presentasi mereka, saya selalu belajar bahwa anak-anak hebat ini kelak akan menjadi lebih hebat lagi. Dengan metode sharing economy, mereka kini bisa menyebar ke mancanegara dengan biaya minimal.

Tak terbayangkan bagaimana mahasiswi saya yang dompetnya hilang di London bisa tetap menyelesaikan misinya hingga ke Skotlandia, menembus dua negara selama 10 hari dengan sehat.

Tak terbayangkan bagaimana mereka mengajarkan dua perempuan Jepang memakai hijab. Tak terpikirkan pula bagaimana mereka berkenalan dengan anak-anak konglomerat dan dijadikan narasumber di berbagai kampus yang mereka kunjungi.

Anak-anak yang steril tak punya cerita menurut versi mereka sendiri. Dan anak-anak itu bisa jadi pembual yang hebat. Tetapi anak-anak yang tak dijemput KBRI kalau ke luar negri, yang berani menghadapi hidup ini dalam perhitungan yang dilatih sendiri, kelak akan mempunyai story versi mereka sendiri.

Personal story adalah modal dasar seorang pemimpin. Ia akan merasa hidupnya berarti, dan sadar bahwa di luar sekolah ada banyak pelajaran yang bisa melatih kepemimpian, empati sosial dan pemgambilan keputusan.

Jadi, sudahlah. Hentikan dagelan ini, orangtua!

oleh Rhenald Kasali
disadur dari Kompas, Kamis, 30 Juni 2016