Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2016

Sawang Sinawang



DALAM frase Jawa dikenal istilah sawang sinawang yang dalam bahasa psikologi disebut persepsi. Kita mengenal dan menilai orang di sekitar kita mungkin sekali lebih banyak berdasarkan persepsi, dimulai dengan melihat dan mendengar apa kata orang. Terlebih sekarang berita dan gosip lewat medsos (media sosial) telah menjadi konsumsi sehari-hari, sehingga apa yang kita katakan dan nilai tentang orang lain tak lebih hanya persepsi.

Orang saling memandang, menduga-duga, lalu disimpulkan sendiri. Seterusnya disebar lewat medsos semacam Twitter, Facebook atau Whatsapp. Mungkin sekali asupan pikiran lewat medsos itu tak ubahnya junkfood, makanan yang tak lagi bergizi meskipun bergairah melahapnya serta murah harganya. Jika disebut murah sesungguhnya juga tidak karena kita membayar pulsa dan membuang waktu hanya untuk bergosip.

Saya mengamati beberapa orang yang ikut WAG, Whatsapp group, lebih dari lima. Setiap hari pesan yang masuk bisa di atas 500. Bayangkan saja, berapa lama waktu untuk membaca dan merespons, belum lagi mesti berpikir dan menuliskannya dengan jari. Menulis pesan pendek lewat medsos biasanya dilakukan terburu-buru, sambil lalu, dan tidak mendalam. Tidak juga terstruktur dengan baik logika dan bahasanya.

Jika hal ini menjadi kebiasaan yang mentradisi, sangat mungkin membuat otak kita tidak terlatih berpikir dan menulis secara sistematis, reflektif dan mendalam. Dan ini kurang bagus dampaknya bagi remaja kita. Mereka juga tidak terbiasa membaca novel yang tebal-tebal. Padahal novel yang bagus sangat membantu untuk mengembangkan imajinasi dan menambah wawasan hidup. Juga memperkaya khazanah berbahasa yang indah.

Sebagian besar isi otak dan rekaman emosi kita jangan-jangan produk persepsi, bukan hasil informasi ilmiah ataupun informasi yang sahih dan valid. Jika betul demikian keadaannya, sungguh disayangkan. Kalau kita beli flashdisk, tentu yang hendak kita rekam dan simpan adalah memori yang baik-baik dan berguna. Ketika kita membeli lemari pakaian, yang kita simpan pakaian yang bersih dan ditata rapi. Apa yang terjadi jika pakaian kotor dan sampah yang kita simpan? Pasti bau dan tidak sehat.

Ungkapan sawang sinawang dalam bahasa Jawa memiliki nilai positif, ketika didasari sikap bersangka baik pada orang lain. Bahwa kita tidak baik cepat-cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya berdasar kesan dan penglihatan. Hanya berdasar kata orang. Tetapi kita juga tidak dibenarkan menyelidiki serba ingin tahu kehidupan pribadi seseorang.

Oleh karena itu, bersangka baik lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang bersangka buruk. Lebih dari itu, jangan mudah silau dan iri melihat orang lain yang kelihatannya mewah dan gemerlap hidupnya. Urip iku sawang sinawang. Hidup itu hanya saling memandang dan menduga-duga. Di balik gemerlap hidup seseorang, pasti menyimpan problem yang disembunyikan, karena tak ada kehidupan tanpa problem.

Sebaliknya, kita seringkali terkecoh dengan penampilan seseorang yang kelihatannya miskin atau sederhana, ternyata dia memiliki kekayaan materi berlimpah atau kebahagiaan hidup yang tidak kita miliki. Oleh karenanya, mengingat hidup ini saling sawang sinawang, maka ojo gumunan. Jangan mudah kagum terhadap penampilan seseorang. Jangan mudah silau lalu bersikap minder atau kecil hati. Jangan mudah kecil hati.

Ojo kagetan. Jangan mudah kaget melihat dan bertemu seseorang yang penampilan awalnya memukau. Melihat rumahnya mewah bak istana. Kita tidak tahu persis kehidupan sejatinya di balik itu semua. Ojo dumeh. Jangan bersikap mentang-mentang. Sombong dan tinggi hati. Roda kehidupan ini senantiasa berputar. Ada kalanya di atas, lain kesempatan di bawah. Makanya bersikaplah wajar. Urip sak madyo. Hidup tidak banyak tingkah, agar tidak mengundang kesan dan komentar yang Anda sendiri tidak senang jika mendengarnya.

Demikianlah, tulisan singkat ini muncul terstimulasi oleh lingkungan sosial yang seringkali asyik bergunjing membicarakan pesan singkat, kutipan dan gambar yang beredar di medsos. Di antara pesan-pesan dan kutipan-kutipan itu banyak pula yang bagus, berisi kutipan ayat-ayat suci, kalimat bijak dan gambar yang mengundang aha!. Namun jangan-jangan semua itu easy come, easy go. Tak sempat dicerna dan direkam mendalam dalam hati dan pikiran, bagaikan angin lalu atau air lewat. Yang tersisa hanya sedikit.


Oleh Komaruddin Hidayat
Disadur dari Koran Sindo, Jum’at, 15 Juli 2016

To Whom Does Indonesia Belong



When Indonesia is mentioned, what is imagined is possibly a nation entity, a state institution, a territory consisting of tens of thousands of islands and an expanse of ocean, or an assemblage of people of around 235 million registered as its citizens.

Out of all of these, the most real and tangible is a group of thousands of islands and the sea, but the number and width is still disputed. This does not include, too, the ability to control and manage the entire contents of its wealth, whether under the earth, in the air or in the sea, our nation is still very weak.

The term and concept of a nation, since the beginning of independence, has been recognized as having serious problems because when Bung Karno and Bung Hatta proclaimed the independence of the Republic of Indonesia, the image of the Indonesian nation itself was not yet clear or intact. What there was, was "the imagined Indonesia", a political ideal that united several hundreds of tribes in the archipelago into the big house of the state of Indonesia. Even the word Indonesia itself is the creation of an expatriate, the connotation of which is a geographical position rather than the name of a nation.

Therefore, Bung Karno and Bung Hatta were not only called to be the proclaimers of independence but also the weavers and founders of the nation. They captured the desire of the archipelago's population to have its own home state and nation, to be sovereign and dignified after dozens and hundreds of years of being humiliated and blackmailed by a colonial power.

In political theory, there is a term known as "social contract", in which citizens hand over their sovereignty to the government for it to create prosperity and security, as well as to educate their offspring. The government, as the receiver of the mandate, is responsible for the trust given by the people in exchange for its agreed upon political authority, facilities and salaries. However, in reality, we became citizens of this state not as a product of voluntary choice and social contract, but rather a historical destiny.

The government may possibly view the power in its hands as the result of it seizing upon a struggle at high cost, so it does not feel guilty when it enjoys state facilities as if they were the result of their hunt. The destiny of Indonesian citizens is similar to other people's diversity, which is generally the product of historical-sociological destiny, not struggle and conscious choice, like someone who becomes a scholar. However, there are still opportunities for people to choose their own religion and citizenship after becoming an adult.

Dispute
There is no agreed theory on which island population has the oldest civilization in this archipelago. The collective memory, which is prominent and binds our social cohesion, is that the archipelagic people want to stand up and be united as a nation that is prosperous, advanced and civilized, free from various forms of oppression and ending social fragmentation based on ethnicity, tribe, religion or social class.

Therefore, even though Indonesia has declared itself to be independent from invaders, as the people see that welfare and prosperity have not materialized equally, they will continue to feel colonized. What has changed is the actors of the invasion and their modus. In fact, through regional elections and general elections, the people always update their social contract to give their sovereignty to the government through political parties, specifically with the expectation that their ideals of freedom can really be realized and felt. The question, which occurs when the regional elections and general elections are over, is whether the political parties are aware of the mandate given by the people and have chosen their best members so that they are able to realize the mandate of the people? At a glance, the portrait of this archipelago has aspects that have not changed over time. Namely, it is always the object of dispute for foreign powers that collaborate with the nation's actors. So, who is the captain who controls Indonesia?

It cannot be denied that there are many foreign powers and cultures that have contributed greatly to moving the archipelagic civilization forward, especially the influence of foreign education and the penetration of religious cultures. Hinduism, Buddhism, Islam and Christianity, all of which were incoming religions, have helped advance the civilization of the archipelago. Now there is another new religion: Confucianism. Interestingly, when religions enter and grow in Indonesia, they become more creative, thereby giving birth to a culture of diversity that is innovative, synthetic and more aesthetically pleasing compared to their place of origin.

Just look at the legacy of Prambanan temple, Borobudur and the Balinese Hindu communities, all of which are more beautiful than in India. The same also happens with Islam in Indonesia, which is richer in cultural dimension compared to that in the Middle East. The dimension of Islamic rituals remains the same and has not changed, but its social dimension is much more creative and richer than in Arab countries. The religion of Christianity for Indonesian Catholics is also the same. They understand far more about Islamic tradition than Christian communities in Europe and the United States because the factor of tribal fraternity helps form a bridge to create a harmonious interfaith and religious relationship. The tradition of Idul Fitri, for example, has become a national culture, not only celebrated by Muslims, and also has significantly strengthened social cohesion and inter-religious tolerance.

Generation of connoisseurs
But when it comes to political and economic solidarity, the picture and its problems are not as beautiful as the cultural aspects. There is no need to study to become an expert in observing the international economy and politics, we can see for ourselves the strength of the network of foreign investment and advanced industrial countries that dominates Indonesian natural resources and market share. Indonesia has the most raw materials needed by industrialized countries, but Indonesia itself finds it difficult to make the leap to become an industrialized country, so we are still only a nation of consumers.
Industrial society has an industrial mentality, which is different from agricultural and fishing communities. They are familiar and very aware of the meaning and function of modern technology to create added value in capitalizing on raw materials and natural resources. Innovation, competition and efficiency are the mantras for industrialized communities to boost their economies. They are conditioned to always be punctual and faithfully guard the process from upstream to downstream, right up to the process of marketing their products. In the marketing world, competition no longer relies on product quality, but on satisfaction and customer loyalty by adding aesthetic values, humanity and spirituality inherent to a product. The culture to serve is one of the elements of an industrialized mentality.

Unfortunately, nearly all the Islamic world is yet to experience the industrial revolution, even though the seeds of modern science, which are the pillars of industry, were initially invented by Muslim scientists in the middle ages. Perhaps only Turkey is relatively advanced in developing industry, a country that does not have oil resources like other Muslim countries. A Muslim county that is familiar with Western influences.

The main economic resources in the Arab world and Indonesia, for example, still depend heavily on the generosity of nature. The agrarian world does not develop, and has not entered the ranks of advanced industrialized countries. Meanwhile, foreign powers aggressively enter as economic players in Indonesia. The cultural ethos and understanding of religion grow but are always touted more as entertainment in the midst of rampant corruption and competition for political power. Borrowing the words of Ibn Khaldun, perhaps the post-45 generation has become trapped in a nation and generation of connoisseurs. A generation that is lazy, corrupt and never seriously carries out its historical mandate, which had been painstakingly built by the freedom fighters and which will, in turn, sink deeper into a generation of destroyers. If this is so, who really is the owner and authority in Indonesia?

by Komaruddin Hidayat
source Kompas, Thursday, July 14, 2016

Kamis, 28 Juli 2016

Budaya Mudik Lebaran



RASULULLAH mengingatkan umatnya, ibarat memacu kuda maka mendekati garis finis hendaknya larinya semakin kencang agar menjadi pemenang. Begitu pun dalam ibadah puasa Ramadhan, di 10 hari terakhir hendaknya diperbanyak ibadah karena hari-hari itu justru akan menentukan kualitas dan keutuhan ibadah Ramadhan. Namun, rupanya yang lebih heboh ialah agenda pulang mudik. Semoga saja mudik Lebaran pun akan tercatat sebagai ibadah.

Fenomena Lebaran telah berakar kuat dalam masyarakat dan ini akan tetap bertahan terus terlebih ketika urbanisasi juga semakin meningkat.

Pengamat asing mengatakan orang Indonesia, khususnya Jawa, they are very much attached to their lands. Masyarakat kita sangat terikat kuat dengan tanah air dan kampung halaman.

Itu terbukti, ketika keluarga yang mengalami rumah hancur terkena tanah longsor ditawari pindah tempat oleh pemerintah, mereka menolak pindah. Jadi, masyarakat Indonesia bukan bangsa yang senang berdiaspora. Mangan ora mangan asal ngumpul.

Tentu saja di kalangan generasi muda sudah mulai kendur ikatan etnik dan kedaerahan, mereka berkarier dan hidup di rantau. Namun, sangat jauh jika dibandingkan dengan masyarakat Tionghoa, Turki, India, dan Yahudi, yang tinggal dan membangun komunitas di luar negeri.

Dugaan saya, kata lebaran berasal dari bahasa Jawa, yang berarti seseorang sudah selesai menyelenggarakan sebuah hajatan. Itulah hajatan melaksanakan perintah puasa selama Ramadhan. Dengan hadirnya Hari Lebaran, seseorang diajarkan untuk lebur, yaitu menyatu kembali dengan sesama hamba Tuhan, apa pun status sosialnya, setelah kembali ke fitrahnya.

Itu ditandai dengan diselenggarakannya acara halal bihalal di lingkungan perkantoran dan masyarakat, sebuah forum untuk saling memaafkan dan memperkukuh rajutan sosial.

Lebaran juga mendorong munculnya sikap luber, yaitu sikap filantropis, senang berbagi rezeki, mensyukuri anugerah Tuhan yang diterimanya selama ini. Karena itu, banyak keluarga muslim yang mengeluarkan zakat tahunan serta sedekah sehabis Ramadhan, di luar zakat fitrah. Tradisi mudik pulang kampung juga menjadi medium untuk mengekspresikan rasa syukur setelah puasa sebulan yang di dalamnya terkandung semangat lebur dan luber.

Kreasi masyarakat
Tradisi yang memiliki dimensi keagamaan sulit hilang atau dihilangkan dari masyarakat, seperti di Bali tempat agama dan budaya telah menyatu. Di Indonesia, budaya Lebaran justru semakin meriah dan menguat karena dampak ekonomi dan sosialnya sangat positif bagi masyarakat dan negara.

Budaya Lebaran secara signifikan ikut memperkukuh kohesi sosial dan mendukung pemerataan ekonomi. Mobilitas warga yang sedemikian masif telah mendorong pembangunan infrastruktur dan menghidupkan bisnis transportasi nasional dengan segala turunannya. Tradisi pulang mudik yang awalnya hanya populer di kalangan masyarakat Jawa sekarang juga menular ke luar Jawa.

Festival yang telah mentradisi yang diciptakan negara ialah peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Namun, dampak sosial ekonominya tidak sebesar dan seheboh Lebaran. Begitu pun pesta tahun baru. Gebyarnya hanya sesaat dan miskin aura keagamaannya. Namun, suasana Ramadhan yang ditutup dengan Idul Fitri sangat kental aura religiositasnya.

Banyak orang yang mengeluarkan zakat dan sedekah pada bulan Ramadhan sehingga ketika tiba Hari Lebaran suasana batin terasa lega. Masing-masing merasa saling memaafkan dan dimaafkan.

Suasana yang demikian ini bukan hasil rekayasa politik, melainkan benar-benar tumbuh dari bawah, keluar dari hati yang selalu ingin memperbaiki kualitas hidup dan merasakan nikmatnya kebersamaan, toleransi, dan kedamaian yang muncul dari penghayatan iman.

Konon sejarahnya, di Eropa hari libur Sabtu dan Minggu disebut holiday karena diinspirasi Bibel bahwa Tuhan istirahat mengurus dunia pada Sabtu. Karena itu, manusia juga istirahat dari kerja mengejar duniawi lalu diganti dengan acara ritual memuja Tuhan sehingga pada holy-day, hari suci, orang pergi ke gereja atau kuil untuk memuja Tuhan.

Namun, sekarang telah terjadi proses sekularisasi, nilai-nilai keagamaan justru hilang pada holiday, yang menonjol ialah pesta duniawi yang penuh hura-hura. Ketika saya jalan-jalan ke Eropa Timur masih terdapat sisa-sisa tradisi Kristen kuno. Ketika datang Sabtu dan Minggu, toko-toko tutup sekalipun banyak turis. Itu pengaruh metafora Bibel, bahwa Sabtu Tuhan pun istirahat sehingga manusia juga mesti istirahat lalu diganti dengan memperbanyak berdoa dan bekerja bakti, tidak mencari uang.

Dari sekian banyak tradisi, jika di dalamnya ada unsur keagamaan, biasanya itu akan mampu bertahan lama. Contoh yang fenomenal ialah masyarakat Hindu Bali, antara ritual keagamaan dan budaya telah menyatu, bahkan menjadi daya tarik turis yang mendatangkan devisa.

Bagi masyarakat Islam Indonesia, selama Ramadhan juga berkembang tradisi berbuka bersama Jusuf Kalla, wakil presiden, pernah berujar kepada saya, puasa itu hanya sebulan, tapi acara berbuka puasa bisa 50 kali, karena mesti menghadiri undangan acara buka bersama di berbagai tempat.

Ketika Lebaran tiba, yang paling utama dari segi agama ialah mendirikan salat Idul Fitri di lapangan atau masjid agung. Namun, yang membuat heboh ialah acara pulang mudik kumpul keluarga, dilanjutkan dengan silaturahim saling memaafkan dan menikmati hidangan Lebaran bersama tetangga dan sanak saudara.

Silaturahim itu juga diselenggarakan di perkantoran, biasanya pada minggu pertama masuk kerja, diikuti semua karyawan lintas agama.

Mengingat animo pulang mudik tetap tinggi, syukurlah pemerintah selalu berusaha meningkatkan kenyamanan dan keamanan acara mudik berupa perbaikan infrastruktur sehingga budaya Lebaran semakin terasa ramah dan menggembirakan. Orang bilang, kalau tidak mudik, Lebarannya serasa hanya separuh.

 

oleh Komaruddin Hidayat

disadur dari Media Indonesia, Sabtu, 2 Juli 2016