Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label mudik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mudik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

Economic Reflection From the Lebaran Celebration



The lively annual celebration of Idul Fitri is back again. Almost all villagers welcome the great days with enthusiasm and joy. The Lebaran celebrations cannot be separated from the homecoming tradition, or "mudik", in most parts of the country.

The phenomenon of people traveling from the cities to their home villages is understandable, because economic development in Indonesia is still concentrated in big cities, especially in Java. As a result, there are massive migration flows from areas that are still economically untapped to cities.

The lure of the big city that promises a variety of facilities and huge economic incentives has become a magnet for workers with a good level of education, skills or expertise. Given this situation, hardly any young workers want to stay in their villages.

It is interesting to note that the traditional mudik still continues and appears to be unaffected by the changing times. The rapid progress in telecommunications has not deterred people from heading home for Idul Fitri. In fact, modern technology now allows for communication not only by telephone but also by email, or even by video streaming. However, the desire to meet in person and see ones relatives face-to-face outweighs the challenges of going home. High transportation costs and heavy traffic congestion are unable to discourage the people from their homecoming romances.

From this phenomenon, we can infer that in migration there is a trade-off between economic considerations and strong socio-cultural aspects. It can be concluded that if there were economic alternatives, migration could become the least-preferred option for many people.

The migration of workers with good educational backgrounds and high skills contributes to the widening development gap, dimming hopes of expediting structural economic transformation in regions and villages.

In fact, even regions blessed with abundant natural resources are abandoned by productive workers. As a result, many potential resources waiting to be developed lie idle and neglected.

The high conversion of agricultural land is caused by a lack of economic incentives in the agricultural business. It is also caused by low productivity amid an absence of modern technology and quality seeds. Post-harvest technology is also limited.

In fact, the village has tremendous potential resources for horticulture, animal husbandry, fisheries and other marine production. If rural areas could be developed into food and horticulture production centers, then a great variety of food and beverage businesses would become the economic backbone of the regions.

Certainty on demand could become an economic incentive for farmers, as well as certainty on prices, especially during harvest time. Moreover, investment into adequate logistic systems could reduce the risk of fruits and vegetables rotting. The availability of a variety of vegetables and fresh fruit from rural areascould ensure that demand from restaurants and hotels is met by domestic production, reducing dependence on imported supplies.

If cattle farming could flourish, not just could the meat shortage be overcome, but also the reliance on imported milk and leather for the footwear industry could be reduced. Moreover, the commitment to promote downstream industries in palm oil, rubber, cocoa and other agricultural productioncould be materialized.

To support such activities, the government only needs to provide basic infrastructure and facilitate investment in rural areas. Each region will not only have added value, but also be capable of exporting manufactured products of high competitiveness. More jobs could be created, imports reduced, and exports expanded.

The momentum of the homecoming traditional could be used to lessen the development gap between urban and rural areas. This could happen if migrants or urban dwellers that have become successful in major cities became aware of and could exploit a wide range of business prospects in their home towns. It could start with them investing in productive activities in their respective hometowns.

If such efforts could be carried out intensively, this could attract larger investors to invest massively in agriculture and rural areas. In addition, it would also provide awareness that investment in this sector will be much more sustainable than investment in the property sector.
 
This could be realized if the mudik was not only seen as a romantic tradition but instead be regarded an effort to realize the love of the homeland in more concrete ways. One of these would be for people to develop the economic potential of their respective villages. At least it couldstart with a small step by buying local products as a form of support for the economic empowerment of the region. The expectation is that equitable development can promote welfare across the country. Happy homecoming!

 

by Eny Sri Hartati

source Kompas, Monday, July 4, 2016

Refleksi Ekonomi Mudik Lebaran



Semarak perayaan hari raya Idul Fitri kembali terulang. Hampir seluruh masyarakat menyambut dengan antusias dan sukacita. Ritual tahunan yang tak lepas dari Lebaran tentu tradisi mudik.

Fenomena mudik di Indonesia dapat dipahami karena pembangunan ekonomi terpusat di kota besar, terutama di Pulau Jawa. Akibatnya terjadi arus migrasi besar-besaran penduduk dari daerah yang potensi ekonominya masih belum tergarap dan berkembang. Daya tarik kota besar yang menjanjikan berbagai fasilitas dan insentif ekonomi besar menjadi magnet bagi tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan, keterampilan, dan keahlian. Apalagi tenaga kerja berusia muda hampir tidak ada lagi yang mau berada di daerah atau di desa.

Menarik menilik antusiasme tradisi mudik yang masih berlangsung dan seolah tak lekang oleh dinamika zaman. Percepatan perkembangan telekomunikasi tidak mampu menggerus minat pemudik. Padahal, seiring perkembangan teknologi, silaturahim tidak lagi hanya melalui telepon, surat elektronik, bahkan melalui hubungan video. Namun, keinginan bertemu melalui tatap muka langsung dengan sanak keluarga mampu menghalau tantangan mudik. Biaya yang tidak sedikit dan kemacetan yang luar biasa mengalahkan harapan untuk mendapatkan romantisisme kampung halaman.

Dari fenomena itu, minimal bisa disimpulkan, dalam pilihan migrasi ada trade off antara pertimbangan ekonomi dan kuatnya aspek sosial budaya. Hampir dapat disimpulkan, jika ada alternatif pilihan dari aspek ekonomi, bisa jadi pilihan migrasi juga menjadi pilihan terakhir bagi banyak orang. Di sisi lain, besarnya arus migrasi tenaga kerja berpendidikan dan terampil juga membuat ketimpangan pembangunan justru semakin melebar.

Harapan proses transformasi struktural perekonomian daerah atau desa juga semakin menjauh. Daerah yang notabene memiliki sumber daya berlimpah justru ditinggalkan tenaga kerja produktif. Akibatnya, banyak potensi sumber daya yang semestinya dapat dikembangkan dibiarkan menganggur dan terbengkalai. Tingginya konversi lahan pertanian disebabkan tidak ada insentif ekonomi dalam usaha pertanian. Di samping itu, juga karena produktivitas yang rendah, belum tersentuh teknologi baru dan benih berkualitas. Teknologi pascapanen juga terbatas. Padahal, desa memiliki potensi sumber daya yang luar biasa, tidak hanya sektor pertanian pangan, tetapi juga holtikultura, peternakan, perikanan/kelautan.

Jika industri pedesaan berkembang di sentra produksi pangan dan hortikultura, maka banyak variasi industri makanan dan minuman yang menjadi andalan daerah. Jaminan permintaan ini menjadi insentif ekonomi bagi petani, sekaligus jaminan stabilitas harga, terutama ketika panen raya. Apalagi, jika ada investasi untuk membuat sistem logistik yang memadai, berbagai produk sayur mayur dan buah-buahan tidak mudah rusak. Dengan ketersediaan sayur mayur dan buah-buahan segar, semestinya kebutuhan restoran dan hotel berbintang pun dapat dipenuhi oleh buah lokal dan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.

Demikian juga jika peternakan berkembang, tidak hanya karut-marut impor daging sapi yang dapat diatasi. Ketergantungan pada impor susu dan impor kulit untuk industri alas kaki pun dapat dipenuhi. Apalagi jika komitmen hilirisasi industri berbasis perkebunan sawit, karet, kakao, dan lainnya juga konkret. Pemerintah cukup menyediakan berbagai infrastruktur dasar dan memberikan kemudahan investasi di daerah. Tiap-tiap daerah tidak hanya mendapatkan nilai tambah, tetapi juga mampu mengekspor berbagai produk industri manufaktur yang memiliki daya saing tinggi. Perluasan penciptaan lapangan kerja terjadi, impor berkurang, dan terjadi perluasan pangsa pasar negara tujuan ekspor.

Momentum mudik Lebaran mestinya dapat menjadi jembatan mengurai kesenjangan pembangunan desa-kota. Dengan catatan, jika migran atau kelompok urban yang telah berhasil di kota besar memiliki kesadaran dan dapat menangkap berbagai prospek bisnis tersebut. Hal ini dapat dimulai melalui cara berinvestasi di kampung halaman melalui usaha produktif dengan menggerakkan industri pedesaan.

Jika upaya ini secara intensif dimulai, tidak tertutup kemungkinan akan menarik pemodal besar untuk berinvestasi lebih masif di sektor pertanian dan pedesaan. Selain itu, juga memberikan kesadaran, investasi di sektor ini akan jauh berkelanjutan dibandingkan dengan hanya fokus berinvestasi di sektor properti.

Hal tersebut dapat terjadi jika mudik tidak hanya dimaknai sebagai romantisisme belaka, tetapi sekaligus dijadikan upaya mewujudkan kecintaan terhadap kampung halaman yang lebih konkret. Salah satunya melalui upaya mengembangkan potensi ekonomi di daerah masing-masing. Minimal dimulai dari langkah kecil dengan membeli produksi lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi daerah. Harapannya, pemerataan pembangunan mampu menyejahterakan masyarakat di seluruh negeri. Selamat mudik.

oleh Enny Sri Hartati
disadur dari Kompas, Senin, 4 Juli 2016

Mudik Lebaran dan Kekerasan



Mudik Lebaran di Indonesia merupakan fenomena paling kolosal di dunia meski mudik juga dilakukan banyak bangsa lain saat merayakan liburan besar, seperti Natal di Amerika Serikat dan perayaan Imlek di Tiongkok. Namun, perayaan mudik Lebaran begitu khas, dan tampaknya akan langgeng karena sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.

Mudik Lebaran yang ditandai dengan silaturahim, halal bihalal, dan ziarah kubur berfungsi melestarikan jati diri sebagai anggota komunitas atau suku tertentu, terutama sebagai Muslim. Prosesi mudik pada gilirannya akan menyegarkan romantisisme akan kenang-kenangan masa kecil mereka, saat mereka sering mengumpulkan makanan untuk berbuka, main petasan dan kembang api, ngabuburit, tarawih bareng kawan, dan terutama buka bersama keluarga tercinta.

Manusia tak pernah hidup dalam vakum-sosial. Bagi pendatang di perkotaan khususnya, budaya urban tak pernah menjadi serpihan utuh dari biografi mereka. Mereka tetap ingin merawat budaya mereka, seperti adat istiadat, bahasa, cara bergaul, cara makan, serta jenis makanan, kesenian, dan permainan. Mudik Lebaran menjadi sarana untuk menghidupkan jati diri mereka dan sebagai pemenuhan atas hasrat bernostalgia.

Benarlah peribahasa-peribahasa yang mengatakan bahwa lupa berarti mati; aku mengenang, karena itu aku ada; siapa yang tidak ada dalam kenangan tidak ada sama sekali. Tanpa mudik Lebaran, warga kota cenderung merasa terasing dengan lingkungan yang keras dan tidak ramah.

Hikmah terpenting dari mudik Lebaran adalah merekat tali persaudaraan dan persahabatan yang telah putus atau longgar akibat mobilitas geografis dan mobilitas sosial. Mudik Lebaran merupakan sarana untuk mengefektifkan kembali komunikasi kita dengan manusia lain, khususnya sesama Muslim. Mengapa kita perlu memperbaiki kualitas komunikasi kita?

Komunikasi sering dikaitkan dengan kesehatan fisik dan usia panjang. Berdasarkan penelitian longitudinal selama 22 tahun dengan sampel 750 orang kulit putih dari kelas menengah, Michael Babyak dari Universitas Duke dan beberapa sejawatnya dari beberapa universitas lain di Amerika Serikat menemukan bahwa orang-orang yang tidak suka berteman, memusuhi orang lain dan mendominasi pembicaraan, berpeluang 60 persen lebih tinggi menemui ajal pada usia dini dibandingkan orang-orang yang berperilaku sebaliknya: ramah, suka berteman, dan berbicara tenang. Temuan itu telah diperteguh oleh banyak penelitian kontemporer yang dilakukan para ahli.

Disebutkan, misalnya, orang yang kekurangan hubungan akrab mempunyai dua hingga tiga kali risiko kematian dini, terlepas dari apakah mereka merokok, minum alkohol, atau olahraga teratur; kanker terminal menyerang orang yang terisolasi secara sosial daripada mereka yang memiliki hubungan pribadi yang dekat. Orang yang terisolasi secara sosial empat kali lebih rentan terserang flu daripada yang memiliki jaringan sosial yang aktif (Ronald B Adler dan George Rodman, 2000). 

Penyakit modernitas
Jauh sebelum itu, korelasi antara keterasingan dan keberingasan manusia terlihat pada percobaan pembunuhan atas para presiden atau kandidat presiden AS, yang ternyata dilakukan orang-orang yang kesepian. Ada ciri serupa pada 137 orang yang mengancam membunuh para presiden atau kandidat presiden AS dalam periode 20 tahun. Mereka secara sosial terisolasi. Tahun 1972, pria yang dituduh mencoba membunuh kandidat presiden George Wallace secara luas digambarkan sebagai orang yang senantiasa kesepian sejak kanak-kanak dan tidak berhubungan dengan orang lain. Ibu kandungnya yang yatim piatu sejak lahir dilukiskan sebagai perempuan yang jarang menyapa orang lain.

Saya yakin berbagai kerusuhan, penganiayaan, dan kekerasan seksual yang sering berujung pada pembunuhan di negara kita selama ini, bahkan dengan memutilasi korbannya, antara lain disebabkan oleh ketiadaan hubungan yang akrab antara pelakunya dan orang lain. Manusia-manusia era global adalah manusia-manusia mekanis, robot-robot, yang tanpa lelah menghambakan diri pada uang dan pekerjaan.

Mereka seperti sekrup tanpa jiwa dari suatu mesin raksasa. Namun, mereka bersaing dengan sesama dan saling memangsa. Jangan-jangan para pengguna media sosial yang kerap berhubungan dengan sesama anggotanya sedikit banyak menderita kecenderungan ini karena mereka lebih jarang berhubungan dengan orang lain di dunia nyata.

Dibutuhkan terapi menyeluruh untuk mengatasi penyakit modernitas ini, yang melibatkan seluruh komponen bangsa, mulai dari keluarga, (tokoh) masyarakat, lembaga pendidikan, hingga pemerintah.

oleh Deddy Mulyana
disadur dari Kompas, Sabtu, 2 Juli 2016