Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label Asep Salahudin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asep Salahudin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2016

Transformasi Diri Idul Fitri



Tentu saja bagi seorang muslim, hari Lebaran merupakan momen-momen menggetarkan, hari raya yang kedatangannya sangat ditunggu.

Tak ubahnya Natal bagi umat kristiani atau Nyepi bagi kalangan Hindu di Bali. Setelah satu bulan penuh berpuasa, kedatangan Idul Fitri seperti ulat yang keluar dari kepompong untuk menemukan suasana baru. Sang Nabi menyebut selepas puasa Ramadhan itu seseorang menjadi suci.

Idul Fitri artinya kembali ke kesucian. Suci karena Ramadhan telah membakar dosa dan kekhilafan. Lewat kuali Ramadhan, kesalahan itu dihanguskan dan manusia dikembalikan ke titik nol, titik awal keberangkatan. Menginjak satu Syawal dengan keinsafan dan semangat baru yang kebaruan itu sepenuhnya diacukan pada jangkar kekuatan spiritual.

'Kebaruan' itu penting sebab suasana seperti ini biasanya yang dapat menyuntikkan harapan gemilang dalam meretas sejarah masa depan.

Kebaruan sebagai pandu untuk memutus sejarah kelam masa silam. Dalam konteks sosial kebangsaan, pemerintahan dan pejabat yang menawarkan sistem baru yang biasanya mendapatkan respons positif dari masyarakat. Sistem dan mentalitas lama biasanya diidentikkan dengan segala bentuk cela, cacat, dan kecurangan.

Maka kewajiban kita itu adalah merawat kesucian. Bagaimana spirit Ramadhan terus-menerus mengawal kita agar tidak jatuh dan tersekap dalam tindakan yang dapat mengotori makna kesucian. Kesucian yang dapat menyelamatkan seseorang ketika kembali ke pangkuan Zat Yang Mahasuci, kepada Yang Kudus. Itu mengingatkan saya pada puisi Ajip Rosidi yang berjudul Hari Lebaran.

'Hari ini hari hati percaya/akan arti hidup dan mati yang cuma sempat/ Direnungkan setahun sekali. Sungguh besar maknanya/Jalan panjang menuju liang-lahat/Hari ini hari kesadaran akan tradisi/ Menyempatkan umat sejenak bersama-sama/Menghirup udara lega dalam kepungan derita/Sehari-hari yang bikin orang jauh-menjauhi/Hari ini hariku pertama 'kan menjalani/Hidup antara manusia, sedangkan diriku sendiri/ Makin sepi terasing, lantaran mengerti/Kelengangan elang di langit tinggi'.

Menebarkan maaf
Di hari raya ini dengan lapang kita tebarkan maaf kepada sanak saudara dan handai tolan. Maka Idul Fitri sering juga disebut Lebaran, saling melubarakan, saling memaafkan. Sebab secara ontologis manusia ialah makhluk yang tidak lepas dari kesalahan, permaafan menjadi pintu masuk mengurai kesalahan itu. Manusia bukan malaikat yang tidak pernah keliru, juga bukan setan yang selamanya tersesat. Manusia berada dalam dua pendulum, antara tarikan kebenaran dan godaan kesalahan. Antara mendekat ke malaikat atau jatuh dalam pelukan setan-kebinatangan. Antara dunia terang dan terseret gelombang arus kegelapan.

Faalhamaha fujuraha wa taqwaha. Dalam diri manusia mengalir potensi fujur (negatif) dan potensi takwa (positif). Mana di antara keduanya yang lebih dominan? Di titik ini sesungguhnya hakikat 'jihad' itu harus diletakkan.

Jihad yang paling besar kata Sang Nabi bukan militansi mengacungkan pentungan dengan pekik Allahu Akbar sambil menganggap kafir mereka yang tak sama haluan pemahaman dan kepercayaannya, melainkan pertempuran dalam jiwa di antara kedua potensi itu. Ketika fujur yang menjadi kiblat, manusia bisa lebih setan ketimbang setan, bisa lebih nestapa daripada satwa. Sebaliknya, saat takwa yang menjadi landasan, manusia harkatnya dapat melampaui malaikat, naik ke takhta spiritual yang paling puncak.

Dengan air muka cerah penuh bahagia kita ulurkan tangan untuk bersalaman sambil mengucapkan permaafan lewat ungkapan minal aidin wal faizin taqabbalallahu minna waminkum. Tidak saja keluarga yang masih hidup yang dikunjungi untuk bersilaturahim, malah leluhur yang telah lama meninggal pun kita ziarahi dan doakan untuk keselamatannya di alam baka.

Dalam konteks budaya keindonesiaan, kunjungan demi silaturahim itu bisa jadi harus menempuh jarah ratusan kilometer dengan kemacetan yang sudah rutin, atau apa yang kita sebut dengan tradisi mudik itu. Ribuan pemudik bahkan lebih pada saat bersamaan rela berjejalan dan terpanggang di jalanan demi menuntaskan kerinduan purba ke kampung halaman, menyelesaikan kerinduan terhadap asal usul kulturalnya. 'Kampung halaman' sebagai tempat yang dituju interaksi simbolisnya tidak saja merujuk kepada makna geografis, tapi juga spiritual.

Di tangan kaum pemudik, seolah jarak itu dilipat. Bagi mereka tidak ada yang abadi kecuali kenangan terhadap 'kampung halaman'. Kenangan yang dalam fakta mentalnya tidak bisa dikuburkan walaupun telah lama mengembara menjadi bagian dari masyarakat urban. Sejauh apa pun mengembara, ujungnya tak lebih hanya proses kultural-psikologis menanam kenangan itu untuk minimal satu tahun sekali diekspresikan dalam katup wujud mudik yang heroik itu.

Mungkin secara sosiologis hanya di kepulauan Nusantara orang pulang kampung secara serentak bahkan negara harus ikut terlibat, ambil bagian menertibkan dengan sandi yang bertemali dengan makanan khas Lebaran; Operasi Ketupat! Mengapa ketupat? Bisa jadi ada benarnya apa yang dibilang Claude Levi Strauss, seorang antropolog berkebangsaan Prancis, bahwa 'makanan' itu tidak hanya berurusan dengan perut tapi dapat menjadi indeks kebudayaan yang lebih luas. Saya tidak tahu apakah atas kesadaran ini jajaran kepolisian mengambil ketupat sebagai simbol dalam mengelola lalu lintas di hari raya.

Dalam praktiknya, ternyata bukan sekadar pulang kampung, melainkan juga narasi yang diriwayatkannya kepada kaum kerabat dan para tetangga tentang kota yang ditumpanginya, sering kali menebarkan daya pikat kepada masyarakat yang masih berada di desa itu untuk ikut merantau mempertaruhkan nasibnya ke kota. Akhirnya lewat Lebaran kota mengepung desa dan selepas Lebaran desa mengepung kota.

Atmosfer religiositas
Harus diakui bahwa selama Ramadhan biasanya indeks kesalehan seseorang meningkat. Tidak saja puasa yang dilakukan, tetapi juga segenap kebaikan ditunaikan dengan penuh keikhlasan. Zakat, sedekah, bangun malam, dan tadarusan menjadi bagian tidak terpisahkan dari hari-hari di Ramadhan.

Bahkan selama bulan puasa, semua stasiun televisi pun menu acaranya menyesuaikan dengan spirit Ramadhan. Bukan saja kita 'dikepung' ceramah sebelum buka dan saat sahur, malah pembawa acara dan segenap artis pun yang biasanaya mengumbar aurat dan memanggungkan gaya hidup hedonistis, selama Ramadhan mendadak menampilkan dirinya tak ubahnya 'santri' dan bahkan 'ustadz'. Lomba dai dan tahfidz Al-Qur’an dalam sepuluh tahun terakhir seolah menjadi menu wajib selama Ramadhan.

Di beberapa tempat saking semangatnya berpuasa, Satpol PP pun merasa perlu menyisir warung-warung yang dipandang dapat mengganggu orang-orang yang berpuasa dengan berlindung di balik perda syariah. Negara tiba-tiba merasa memiliki kewajiban untuk mengurus ibadah seseorang yang sesungguhnya bersifat personal.

Namun, harus juga lekas dicatat, ritual yang dilakukan sering kali berhenti sebatas upacara. Selesai ritual ditunaikan, selesai pula urusannya. Di persimpangan inilah fenomena paradoksal itu mencuat. Satu Syawal seolah menjadi katup orang kembali ke habitat aslinya yang negatif. Nyaris Ramadhan itu tak berdampak baik secara personal, kultural, terlebih sosial. Akhirnya, selamat berlebaran.

oleh Asep Salahudin
disadur dari Media Indonesia, Selasa, 5 Juli 2016

Kamis, 28 Juli 2016

"Epifani" Idul Fitri



Idul Fitri secara harfiah bermakna kembali kepada kesucian. Dirayakan sebagai ekspresi kemenangan setelah satu bulan penuh melakukan tapabrata. Berpuasa menahan lapar dan dahaga. Membayangkan selepas keluar dari Ramadhan, orang lahir kembali dengan kesadaran baru. Dalam ungkapan teologis, "Seperti bayi yang baru keluar dari rahim bundanya."

Dalam level personal, Idul Fitri itu semestinya menginjeksikan keinsafan tentang keniscayaan merawat interioritas jiwa agar senantiasa berada dalam atmosfer kesucian. Sementara dalam aras sosial, Idul Fitri itu sebenarnya menyerukan kewajiban susulan bahwa kesucian itu pada saat bersamaan harus dipantulkan dalam wujud kesediaan membangun persahabatan dengan "liyan".

Liyan di sini tak hanya dimaknai sebagai sosok yang sama keyakinan, tetapi berbeda haluan mazhab, ormas, dan pemikiran; tetapi dalam liyan juga terkandung garis lintas sektoral budaya, kultur, dan iman. Di titik pertautan inklusif seperti ini, Idul Fitri menjadi kesempatan berharga untuk saling mendengar, saling belajar, saling memahami, dan saling menghargai.

Maka, menjadi dapat dipahami seandainya selepas Idul Fitri kita ditekankan satu sama lain saling bersalaman. Bersalaman bukan sekadar persentuhan kedua telapak tangan, saling menjabat, tetapi sesungguhnya melambangkan kehendak menanamkan sikap lapang, saling memaafkan, dan tekad menebarkan damai kasih kepada seru sekalian alam.

Dalam praktiknya, tidak ada orang yang bersalaman, kecuali di dalamnya terlibatkan pancaran wajah sumringah, senyum tulus, dan gestur tubuh penuh kehangatan, bahkan ada banyak orang yang melakukannya sambil berangkulan, bercengkrama penuh keakraban.

Dalam tilikan filsuf Levinas, "wajah" seperti ini sejatinya yang menjadi manifestasi epifani ilahiah. Wajah yang mengalirkan daya metafisika untuk satu dengan lainnya menggabungkan diri dalam persatuan otentik, dalam persahabatan lintas batas, dan dalam kehadiran perserikatan hidup yang agung.

Wajah yang melampaui tampilan fisik-muka. Dalam "wajah" saat Idul Fitri itu seharusnya terbersit penyingkapan riil tentang "kesucian" (fitri) itu. Kesucian baik hubungannya dengan sosial (kemanusiaan nondiskriminatif), politik (tegaknya keutamaan), hukum (sebanding lurus dengan kebenaran), ekonomi (keadilan yang terdistribusikan secara merata kepada semua pihak), atau agama (terbebas dari tindakan menjadikan agama sekadar jubah formalitas semata).

Inilah wajah gembira, wajah penuh persahabatan yang dapat menghindarkan manusia dari kepribadian yang terbelah, anonim dan impersonal. Wajah yang dapat memberikan gambaran manusia secara utuh.

"Minal aidin wal faizin"
Maka, sesungguhnya di titik entitas kesadaran fundamental ini, adagium yang kerap diucapkan saat Idul Fitri, minal aidin wal faizin, menjadi bermakna. Minal aidin sebagai pengingat bahwa kita kembali ke kehidupan sosial setelah ditempa dalam ritus puasa vertikal kepada Tuhan. Wal faizin, artinya kita berada dalam kebahagiaan saat persahabatan itu jadi modus eksistensial kehadiran setiap kita, ketika persekutuan itu menjadi panggilan terdalam kaum beriman.

Bukankah tujuan beragama (dan berpolitik) adalah ikhtiar tidak pernah mengenal henti memburu pengalaman kebahagiaan. Dan, demokrasi disepakati sebagai sistem dalam memilih pemimpin tidak lain dalam upaya memimpikan terbitnya kebahagiaan lewat tangan-tangan para pemimpin terpilih, yang diharapkan bisa mengelola kekuasaan dengan benar. Sejarah mencatat bahwa imaji tentang konsep kedatangan "ratu adil" selalu dimulai ketika mimpi kebahagiaan itu tidak kunjung tiba, saat keresahan menyekap masyarakat.

Ketika Aristoteles menyampaikan gagasan tentang polis dan Al-Farabi mengarang kitab al-Madinah al-Fadilah, sesungguhnya di dalamnya tersirat bahwa "negara" atau "kota" hanya akan sampai pada kebahagiaan bersama. Yakni, ketika seluruh warganya mampu membangun pertemanan sosial yang inklusif dengan etika imperatifnya berupa sikap respek, tanggung jawab, pengagungan pikiran, pemuliaan kemanusiaan, cinta kasih, dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu.

Indeks kebahagiaan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ruang publik yang dikepung banyak taman yang indah. Namun, secara esensial, yang menjadi acuan pokoknya adalah adanya ruang publik terbuka tempat warga negara bisa membangun persahabatan yang otentik, komunikasi partisipator, hadirnya demokrasi deliberatif, dan keseriusan kaum penguasa mengelola kekuasaannya secara terbuka, logis, dan berkeadilan.

Politik pun, di mana manusia dibilang sebagai zoon politikon, dalam terang wajah epifani Idul Fitri, menjadi tugas mulia, tugas kenabian, yang di dalamnya tergambarkan jejak-jejak ketuhanan.

Di Idul Fitri, biasanya pintu rumah-rumah kita terbuka. Sebagian pejabat malah menyelenggarakan open house. Bagi saya, keterbukaan ini jangan berhenti sebatas "fisik", apalagi hanya basa-basi politik pencitraan untuk memenuhi kebiasaan penguasa semata. Akan tetapi, ia harus ditingkatkan maqam-nya menjadi kesanggupan diri (capable self) untuk juga bisa terbuka dalam melihat fakta keragaman, pluralisme, dan multikulturalisme. Open house itu adalah medan pertemuan pejabat dengan warganya untuk satu sama lain saling menyelami kedalaman sukmanya dengan penuh kejujuran.

Hanya dalam suasana keterbukaan (openness) seperti ini kita dapat hidup berbangsa dan bernegara secara dewasa. Keragaman tidak lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi hajat pokok dalam kehidupan manusia, sekaligus pintu masuk untuk bersatu dalam ketulusan, dalam terang wajah-wajah yang memancarkan nyala epifani kudus ilahiah. Kehidupan dan bernegara pun menjadi milik bersama, dihayati bersama-sama.

Akhirnya, selamat Idul Fitri, mari ber-salam-an, saling memaafkan lahir dan batin.

oleh Asep Salahudin
disadur dari Kompas, Senin, 4 Juli 2016

Senin, 25 Juli 2016

Etos Ilmiah Nuzulul Qur'an



SALAH satu kebiasaan Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul adalah melakukan tahannust (menyepi). Semacam kegiatan personal melakukan renungan total tentang kondisi sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya, merefleksikan zamannya yang dalam pandangannya tengah disekap kebudayaan yang menghinakan akal sehat yang kemudian disebut jahiliah.

Nyaris kejahiliahan itu menimpa semua sektor kehidupan. Ekonomi dikelola hanya tertumpu pada semangat mengejar keuntungan belaka dengan cara licik; sosial dijangkarkan pada sentimen perkauman yang sempit dan sering kali berkobar menjadi gelaran konflik berdarah (safak ad-dima') walaupun pemantiknya hanya persoalan sepele. Politik benar-benar dengan sempurna menerapkan prinsip menghalalkan segala cara, sedangkan kebudayaan diacukan pada haluan hanya melulu menjadikan materi sebagai daulat utama.

Tentu saja kedudukan perempuan sama sekali berada di titik nadir bahkan kelahirannya dianggap aib bagi keluarga sehingga harus lekas dikubur hidup-hidup. Dalam sistem keyakinan lebih parah lagi. Malah diriwayatkan ketika mereka bepergian, Tuhan dibawa dan terus dihadirkan dalam wujud roti yang dibikinnya sendiri untuk setiap saat disembahnya. Tatkala lapar menyergap, Tuhan itu pun menjadi santapannya. Tuhan menjadi sekadar makanan untuk mengenyangkan perut.

Gua hira
Tempat favorit sang nabi dalam melakukan tahannuts (menyepi) itu adalah sebuah gua yang berada di tebing Gunung Nur (Jabal Nur). Kurang lebih 5 km arah utara dari Masjidil Haram. Di gua itu Nabi bermeditasi, mengosongkan hati, menyatukan sukma dengan Yang Mahakuasa, sekaligus menyampaikan seluruh keresahan jiwanya, mengadukan persoalan sosial yang menimpa masyarakatnya.

Gua yang menjadi situs rohaniah yang menggambarkan bagaimana Muhammad SAW seorang diri mewafakan tubuhnya demi melakukan transformasi sosial yang diimajikannya. Naik ke gunung batu bukan hal mudah, sekali terpeleset yang menjadi pertaruhannya ialah nyawanya sendiri. Dalam musim terik menyengat (Ramadhan artinya adalah cuaca yang membakar), kaki itu menaiki batu demi batu menuju puncak Hira, menyendiri, dan larut dalam hening yang menggetarkan, dalam munajat sepi yang tak ditemani satu orang pun. Hanya dirinya dan Tuhan. Tanpa arahan wahyu kecuali mengikuti rute suara hatinya yang bening.

Tepat pada 17 Ramadhan itulah, hijab terbuka. Tuhan mengutus Jibril menyampaikan firman-Nya. Dahsyatnya ternyata ayat yang pertama kali turun ialah gelora agar sang Nabi itu pandai membaca. Iqra, bacalah.

Bismi rabbik, atas nama Tuhanmu. Seruan-Nya yang pertama bukan perintah haji berkali-kali atau umrah berulang kali, bukan pula puasa dan salat dalam hitungan tak terbilang dan apalagi kewajiban menegakkan syariat, tapi keniscayaan agar terampil membaca.

Dalam peradaban mana pun juga 'membaca' adalah sebuah metafora dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan. Iqra merupakan simbol keharusan menyiapkan sumber daya insani. Tanpa etos iqra, perubahan sosial yang dibayangkan tidak akan pernah terwujud. Iqra yang menjadi sumbu kebudayaan itu memiliki rohnya yang berwibawa. Seolah Tuhan hendak mengatakan bahwa kejahiliahan itu bermula karena absennya kerja iqra dan atau membaca itu dilakukan tapi sama sekali tidak melibatkan nilai-nilai ketuhanan, tidak bismi rabbik.

Pengalaman spiritual itu tentu saja sangat mengguncang dirinya. Di sebuah gua, di tepi gunung berbatu, tiba-tiba hadir makhluk asing dengan perintahnya yang juga asing. Menjadi beralasan sekembali ke rumahnya, istrinya disuruhnya untuk lekas menyelimutinya. Justru ketika selimut sudah menutupi sekujur tubuhnya, Tuhan kembali datang dengan firman susulannya, "Wahai yang berselimut bangun, dan peringatkan. Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, lepaskan dirimu dari perbuatan keji."

Visi pengetahuan
Konteks turunnya Al-Qur’an seperti itu menarik kita renungkan. Keharusan 'membaca' dan 'membuang selimut' inilah yang tidak hadir dalam kesadaran umat Islam hari ini, dari batang tubuh bangsa kita sekarang.

Padahal, yang menjadi energi umat Islam mampu mencapai puncak peradaban pada abad pertengahan sehingga melahirkan tokoh-tokoh besar semacam Ibnu Sina, al-Kindi, al-Farabi, al-Khawarizmi, Ibnu Rusydi, yang kemudian mengilhami kebangkitan dunia Barat yang sedang berada dalam limbo kemunduran ialah semangat membaca itu.

Seandainya membaca melambangkan etos ilmiah, 'menyingkirkan selimut' ialah etik imperatifnya. Wahai yang berselimut kebodohan, singkirkanlah dan bangunlah lembaga pendidikan bermutu. Wahai yang berselimut kefakiran, singkirkan sikap malas dan seriuslah menggumuli persoalan ekonomi. Wahai yang berselimut kerakusan, singkirkan dan tumbuhkan kedermawanan. Wahai yang berselimut politik kecurangan, singkirkan dan tancapkan nilai-nilai politik luhur yang menjunjung tinggi keutamaan dan kemanusiaan.

Kalau kita simak, nyaris sepanjang Muhammad SAW meniti karier kenabian, perhatian dan kebijakan yang diambil selalu diorientasikan untuk sektor pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan. Kita baca dalam sekian hadisnya, bagaimana laki-laki dan perempuan dibebani kewajiban mencari ilmu jauh sebelum Kartini, Lasminingrat, atau Dewi Sartika bikin sekolah yang khusus diperuntukkan kaum perempuan.

Belajar sepanjang hayat dipromiskannya setiap saat, carilah ilmu dari mulai buaian bunda sampai lubang kubur. Malah tatkala dalam sebuah pertempuran mendapatkan tawanan, tawanan itu bisa bebas hanya dengan dua opsi: pertama, menebusnya dengan sejumlah uang dan uang itu wajib masuk kas negara yang dikhususkan bagi dunia pendidikan. Dan kedua, apabila tawanan itu kategorinya miskin, dia wajib menularkan keterampilan baca tulisnya kepada anak-anak muslim yang masih buta aksara.

Tentu saja kalau kita membaca Al-Qur’an akan dengan mudah menemukan ayat-ayat lainnya yang senapas dengan iqra. Al-Qur’an ialah kitab suci yang menjunjung tinggi rasionalitas. Akal sebagai kata yang merujuk pada nalar tidak pernah dirumuskan dalam bentuk kata benda (al-aql), tapi seluruhnya adalah kata kerja, afala taqilun atau afala yaqilun. Maknanya ialah akal sebagai potensi yang harus terus didayagunakan, berpikir tidak boleh mengenal kata khatam. Seandainya Rene Descartes sampai pada kesadaran 'aku berpikir maka aku ada' sebagai penanda modernisme-rasionalisme, dalam jalur yang sama Nabi SAW menyerukan agama itu adalah akal, tidak beragama mereka yang tidak pernah menggunakan akalnya. Ad-dinu huwa al-aqlu li dina li man la aqla lahu.

Inilah yang kemudian disimpulkan Soekarno dalam Surat-Surat dari Ende bahwa Islam itu adalah agama berkemajuan, Islam is progress. Bung Karno menyebutkan ciri kemajuan itu ialah penghargaan terhadap rasio, terhadap nilai-nilai modernitas.

Islam yang benar yang disebutnya sebagai 'api Islam' ialah Islam yang belum terbenam dalam lumpur sikap taklid dan tahayul, Islam yang sigap berdialog dengan roh zaman, menjadi pandu bagi langkah-langkah perubahan sosial termasuk bisa membebaskan umatnya dari sekapan kolonialisasi dan kolonialisme.

Merenungkan Nuzul Quran ialah mengingat kembali sesuatu yang hilang dalam diri umat Islam: pentingnya ilmu pengetahuan. Atau dalam istilah Kuntowijoyo, kita harus menghentikan Islam mitologis dan ideologis dan kita harus mulai bergeser masuk ranah Islam epistemologis

oleh Asep Salahudin
disadur dari Media Indonesia, Selasa, 21 Juni 2016