Pemerintah
menempuh segala cara dari importasi, operasi pasar hingga memotong rantai pasok
guna menurunkan harga komoditas pangan utama paling lambat dalam dua minggu ke
depan. Namun, sejumlah pihak meragukan strategi itu akan berhasil. Sejumlah
komoditas pangan utama yang menjadi sorotan adalah daging sapi, bawang merah
dan gula pasir yang belakangan mengalami penaikan harga, serta beras medium
yang menjadi pangan utama masyarakat.
Selain
itu, penyelidikan distributor nakal yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan
(Kemendag), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kepolisian RI terus
digencarkan untuk menurunkan harga yang relatif menanjak dari bulan biasanya.
Mendag
Thomas Lembong mengatakan sejumlah impor komoditas yang telah diterbitkan saat
ini belum tiba, sehingga stok komoditas, seperti daging dan gula masih belum
memadai yang mem buat harga masih terpantau tinggi.
Dia
mencontohkan izin impor daging sapi sebanyak 27.000 ton oleh BUMN, BUMD dan
swasta, saat ini baru terealisasi ribuan ton saja sehingga harga daging belum
turun seperti yang diinginkan.
“Masih
on going pemasukan impor, tapi saya
yakin dalam dua minggu ini terdapat akselerasi stok sehingga bisa menurunkan
harga,” katanya usai Sidang Kabinet Paripurna, Selasa (7/6).
Thomas
mengatakan pemerintah berupaya untuk menurunkan harga daging secara maksimal
sesuai dengan arahan Presiden Jokowi di kisaran Rp80.000/kg. “Kami hanya bisa
melakukan apa yang mampu kami lakukan,” ujarnya.
Meski
demikian, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan memang perlu waktu agar
pemasukan impor, operasi pasar dan hasil kerjasama langsung dengan perusahaan
berdampak pada penurunan harga pangan.
Sejauh
ini, pemasukan impor daging baru 1.800 ton yang dilakukan oleh Perum Bulog,
penyaluran gula oleh Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) sebanyak
102.000 ton dari total importasi 192.000 ton, sementara impor bawang merah
5.000 ton masih diproses.
Menteri
Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan memasuki awal bulan
Ramadan, pihaknya mengindentifikasi sejumlah harga pangan, seperti beras,
bawang merah dan minyak goreng berangsur turun.
Namun,
dia menyayangkan harga gula pasir yang masih terpantau tinggi imbas perdagangan
gula global serta harga daging yang masih tinggi, walaupun kenaikannya dinilai
masih wajar.
Dilansir
dari kemendag.go.id, harga gula pasir menunjukkan kenaikan 15% (month on
month/mom) menjadi Rp15.640/kg. Sementara itu, harga daging sapi hanya naik
2,94% (mom), namun tetap terpantau tinggi di kisaran Rp115.830/kg.
Sulit Turun
Sementara itu, pelaku peternakan menyebut harga daging di dalam negeri merupakan bentukan struktur pasar yang sudah berlangsung lama sehingga sulit untuk diturunkan dalam waktu seketika.
Sementara itu, pelaku peternakan menyebut harga daging di dalam negeri merupakan bentukan struktur pasar yang sudah berlangsung lama sehingga sulit untuk diturunkan dalam waktu seketika.
Ketua
Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana
mengatakan pemerintah seharusnya menentukan orientasi kebijakan harga daging
nasional, apakah ingin distabilkan dalam jangka panjang, atau hanya diturunkan
saat menjelang hingga setelah hari besar.
Pasalnya,
kebijakan yang selama ini dilakukan dinilai merupakan kebijakan yang sifatnya
sementara. Setelah hari besar, masyarakat tetap sulit untuk mengakses daging
dengan harga Rp80.000 seperti yang ditargetkan pemerintah tercapai pada hari
besar tahun ini.
“Kalau
dikalkulasikan, saat ini harga per kilogram berat hidup sapi di sentra produksi
yaitu Rp34.000 dan di daerah konsumsi bisa Rp44.000 per kilogram. Saat dihitung
itu harganya di konsumen Rp109.000, memang harganya sudah segitu,” ungkap Teguh
saat dihubungi Bisnis, Selasa (7/6).
Bustanul
Arifin, Ekonom Senior Indef, menilai dibutuhkan perbaikan menyeluruh rantai
nilai daging sapi mulai dari sisi hilir (pasar murah), tengah (perdagangan),
dan hulu (peternakan dan feedloter) guna menekan harga daging sapi. “Paling
cepat butuh satu hingga dua tahun.”
Kemarin,
Komisi Pengawas Persaingan Usaha juga melakukan advokasi kebijakan dengan
kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, guna mengamankan harga
pangan strategis saat Ramadan hingga tiga bulan ke depan.
Advokasi
kebijakan tersebut diklaim akan menjadi salah satu fokus di Paket Kebijakan
Ekonomi ke-13, mengenai kebijakan persaingan usaha dan penyederhanaan regulasi.
Ketua
KPPU M. Syarkawi Rauf mengatakan komoditas pangan strategis yang masih ditemui
kendala di pasar adalah harga sapi dan ayam.
Adapun
salah satu advokasi kebijakan yaitu memantau rantai distribusi yang sangat
panjang. Pasalnya panjangnya arus distribusi merupakan indikasi adanya celah
persekongkolan dan timbulnya mafia pangan. Apabila setiap channel distributor mengambil margin keuntungan maka kenaikan harga
ayam atau sapi di tingkat konsumen tidak bisa dibendung lagi.
KPPU
sepakat dengan rekomendasi Komisi Ekonomi Industri Nasional (KEIN) untuk
mematok harga daging sapi, layaknya sistem patokan tarif angkutan umum.
disadur dari Bisnis, Rabu, 8 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar