Editors Picks

Tampilkan postingan dengan label mitigasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitigasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2016

Prakarsa Menyiasati Bencana



Sesungguhnya sering dilontarkan peringatan tentang risiko perubahan iklim dan kemungkinan terjadinya bencana di Tanah Air. Akan tetapi, entah karena apa, kita cenderung kurang responsif atau bahkan mengabaikannya, dan baru sadar tatkala bencana tiba-tiba datang menyergap.

Belum kering air mata keluarga korban bencana dan belum usai pula upaya penanganan bencana yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah, kini kembali kita dikejutkan oleh kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Manado, Sulawesi Utara.

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sulawesi Utara dan Jawa Tengah ini bukan saja tidak terduga karena terjadi menjelang memasuki musim kemarau, melainkan juga memprihatinkan karena dilaporkan ada sejumlah korban tewas. Badan SAR Nasional (Basarnas) merilis data sementara jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Sangihe berjumlah empat orang. Sementara di Jawa Tengah, korban bencana tercatat sebanyak 40 jiwa tewas dan minimal enam orang luka-luka akibat terkena longsoran, serta sembilan warga belum ditemukan alias masih hilang. Artinya, tidak mustahil jumlah korban tewas akan bertambah lagi karena hingga saat ini pencarian dan evakuasi terhadap korban bencana terus dilakukan.

Faktor penyebab
Faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia sudah barang tentu sangat kompleks. Akan tetapi, dari berbagai faktor penyebab yang bisa diidentifikasi,  anomali cuaca dan perubahan iklim dunia yang terjadi sesungguhnya adalah biang kerok yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap kejadian bencana di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Tanah Air.

Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya bencana di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Pertama, perubahan iklim selain dapat meningkatkan siklus air sehingga mengubah aliran sungai di berbagai belahan dunia dalam hal jumlah, waktu, distribusi musiman, kualitas air, dan ekosistem, yang tak kalah mencemaskan perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya banjir karena kenaikan permukaan air laut dan luapan sungai.

Dalam salah satu penelitian di Inggris ditemukan bahwa perubahan iklim berdampak pada meningkatnya risiko banjir. Dari data 1998-2012, tingginya curah hujan menyebabkan banjir, juga tanah longsor, yang pada akhirnya menyebabkan puluhan korban meninggal dunia. Klaim asuransi meningkat hingga 500 juta poundsterling. Kerugian  tercatat hingga 5,5 miliar poundsterling. Puluhan ribu rumah dan ribuan bisnis terkena banjir, serta rusaknya fasilitas jembatan, dan area pertanian (Hannaford, 2015).

Kedua, perubahan iklim dapat berdampak pada ketersediaan pangan dan naiknya harga bahan makanan karena menurunnya hasil panenan. Bila cuaca ekstrem seperti kekeringan dan gelombang panas semakin sering terjadi, diperkirakan terjadi kenaikan harga hingga 30 persen. Diperkirakan secara global terjadi penurunan produksi jagung, gandum, dan beras masing-masing sebesar 10, 7, dan 6 persen. Dalam kondisi terbatasnya air, biasanya petani cenderung memperluas lahan atau mengganti tanamannya dengan komoditas berharga jual lebih tinggi (Ignaciuk & Mason-D-Croz, 2014).

Sebaliknya, ketika iklim yang berlangsung termasuk kemarau basah, maka hujan yang berkepanjangan niscaya juga akan menyebabkan banyak lahan terendam air, kebanjiran, sehingga hasil panenan yang dipetik pun tidak seperti yang diharapkan. Hukum ekonomi yang berlaku, ketika komoditas pangan berkurang, harga bahan makanan pun pelan-pelan akan merayap naik.

Ketiga, dengan meningkatnya banjir dan kekeringan, masyarakat kelas bawah di daerah urban juga dapat terdampak, minimal dalam hal ketersediaan air bersih dan sanitasi, sehingga meningkatkan tekanan akan kebutuhan air bersih. Masyarakat miskin dikhawatirkan paling terdampak perubahan iklim karena tinggal di area yang ekologisnya rawan, dan sangat bergantung pada sumber daya alam dan sektor yang rentan terhadap perubahan iklim. Misalnya bagi penduduk yang tinggal di wilayah yang tandus, tetapi rawan banjir. Dalam konteks ini, turunnya pasokan air tidak mustahil akan dapat memicu timbulnya konflik alokasi antara pertanian dan peternakan sehingga juga dapat mengurangi kebutuhan buruh, yang pada akhirnya mengakibatkan pengangguran (Heath dkk, 2012).

Prakarsa lokal
Ketika bencana yang terjadi semakin meluas dan tak terbendung, salah satu jalan keluar yang utama adalah melakukan adaptasi. Proses adaptasi merupakan rangkaian usaha manusia untuk menyesuaikan diri atau memberi respons terhadap kejadian yang mengancam kelangsungan hidup organisme, termasuk manusia. Dalam menghadapi ancaman dan dampak terjadinya bencana, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan pola adaptasi yang berbentuk pola tingkah laku yang mengikuti dan menyiasati perubahan iklim agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisasi.

Adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim ini perlu dilakukan karena  dampaknya selama ini telah dirasakan dan terjadi di sejumlah daerah, seperti ancaman kekeringan, terjadinya banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana lainnya. Selain itu, telah disadari bahwa keterlambatan dalam merespons dan beradaptasi terhadap perubahan iklim bisa berisiko dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Akibat banjir, misalnya, setiap tahun diperkirakan jutaan hektar lahan terendam air dan gagal panen, yang kemudian berpotensi mengganggu ketahanan pangan kita.

Sebagai bagian dari perubahan iklim global, terjadinya bencana harus diakui memang sulit diprediksi, apalagi ditiadakan. Kemungkinan munculnya bencana banjir dan tanah longsor sebagaimana yang terjadi di Jawa Tengah, misalnya, sering kali terjadi tanpa bisa diduga. Seperti mimpi buruk yang tiba-tiba hadir, terjadinya bencana banjir dan tanah longsor sering kali berlangsung cepat, dan tidak terduga. Hanya saja, bedanya, jika mimpi buruk hilang begitu saja ketika kita terbangun, yang namanya bencana justru dampaknya baru dirasakan ketika kita telah sadar: rumah rusak, lahan terendam, dan bahkan tidak sedikit warga masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya akibat terjadinya bencana.

Untuk menyiasati agar efek terjadinya bencana tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat, tentu saja dibutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak dan peran aktif pemerintah untuk membangun berbagai infrastruktur yang fungsional untuk menahan banjir, mencegah tanah longsor, atau menyediakan pompa air untuk menyiasati ancaman kekeringan. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana mendorong pengembangan inisiatif atau prakarsa masyarakat lokal, baik inisiatif di tingkat individu maupun prakarsa komunitas, untuk melakukan berbagai langkah pencegahan dan penyiasatan terhadap dampak bencana akibat perubahan iklim.

Berbagai prakarsa lokal yang sudah dikembangkan di sebagian masyarakat, dan penting untuk dikembangkan pula di komunitas yang tinggal di daerah rawan bencana, antara lain, adalah pembuatan  sumur resapan, penanaman pohon, kerja bakti membersihkan sungai, dan mengumpulkan air tadah hujan. Di tengah keterbatasan dana pembangunan yang dimiliki pemerintah, munculnya berbagai prakarsa masyarakat lokal untuk ikut berpartisipasi menyiasati perubahan iklim, bukan saja sangat strategis dilakukan, melainkan juga akan dapat menjamin kontinuitas jangka panjang pelaksanaan berbagai prakarsa yang kemungkinan justru lebih efektif mencegah efek bola salju terjadinya bencana.

oleh Bagong Suyanto
disadur dari Kompas, 23 Juni 2016

Anomali Cuaca di Pertengahan Tahun



Hujan lebat pertengahan Juni 2016 yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor di wilayah Jawa Tengah, jelas merupakan penyimpangan kondisi cuaca, iklim, dan perairan.

Angin kencang, petir, pasang air laut yang tinggi, dan hujan intensitas tinggi adalah hal yang tidak biasa pada Juni. Layaknya, jelang pertengahan tahun adalah cuaca dengan curah hujan berkurang dan dengan kegiatan petir yang minimum pula.

Seharusnya, cuaca didominasi kondisi kurang hujan, karena masuk musim kemarau, dengan tiupan angin musim timur yang kencang di atas wilayah selatan ekuator, peristiwa lunar pun seharusnya hanya berlangsung beberapa hari.

Kenyataannya, terjadi kerancuan kondisi cuaca dan iklim yang berlanjut dengan naiknya paras muka air laut, baik dari kondisi pasang yang secara astronomis terjadi setiap Januari dan Juni, dengan posisi pasang tertinggi. Dalam tulisan sebelumnya (Kompas, 10/5), saya telah mengingatkan bahwa keragaman cuaca dan iklim akan terus berlangsung ke depan. Itulah yang kemudian terjadi.

Interaksi anomali
Interaksi semua anomali itu, membuat kondisi udara dan perairan yang biasanya bersahabat menjadi kurang bersahabat. Hadirlah hujan berintensitas tinggi yang berlanjut dengan bencana banjir dan longsor. Fenomena ini terjadi di hampir semua kawasan Indonesia.

Pasang naik diikuti dengan angin timur yang kencang, menyebabkan gelombang pasang yang terjadi mulai dari Pantai Kuta, Bali, hingga pantai selatan Jawa selama Juni 2016. Sepertinya hal ini masih berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, di pantai-pantai wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

Data kondisi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan bahwa semua ini terkait dengan munculnya gejala alam global La Nina. La Nina adalah kondisi suhu laut kawasan ekuator Samudra Pasifik timur yang turun dari nilai rerata bulanan dan kondisi suhu laut kawasan Benua Maritim Indonesia yang hangat atau naik dari nilai rerata bulanan. La Nina adalah kebalikan gejala alam El Nino yang berdampak kekeringan.

La Nina didukung indeks dipole mode negatif. Artinya kondisi suhu muka laut kawasan regional Samudra Pasifik timur sekitar wilayah Indonesia naik/hangat dan suhu muka laut Samudra Pasifik barat dekat Benua Afrika turun/dingin. Hal ini seiring dengan giatnya osilasi Madden-Julian, suatu gerakan angin barat sepanjang ekuator, diikuti dengan kegiatan awan konveksi yang bergerak dari kawasan Samudra Hindia di sepanjang ekuator ke arah Timur.

Aspek lain yang luput dari penjelasan adalah lingkup regional dengan belum hadirnya badai tropis di kawasan tergiat kegiatan badai tropis, yaitu di kawasan utara wilayah Indonesia, di perairan Samudra Pasifik barat-utara wilayah Indonesia hingga Filipina. Hal lain adalah tekanan tinggi Benua Australia yang masih belum aktif.

Kedua kondisi regional di atas menyebabkan angin muson atau angin musim timur tenggara enggan bertiup dan masih rendahnya tekanan udara di kawasan Indonesia. Nilai tekanan rendah hampir homogen selama Mei hingga awal Juni yang menjadi pemicu pertumbuhan awan menjulang tinggi atau awan konveksi. Awan konveksi menghasilkan badai guntur, angin kencang, dan hujan lebat.

Rendahnya tekanan dan melemahnya angin timur di wilayah Indonesia memicu terkumpulnya massa air laut sehingga bila tergoyang tiupan angin kencang dari arah timur-selatan di perairan Samudra Indonesia, memicu munculnya gelombang pasang di sepanjang pantai selatan, dari Kuta hingga selatan Jawa.

Adanya limpasan banjir rob di pantai utara Jawa atau sekitar pantura, adalah konsekuensi dari posisi pasang tertinggi pada setiap Juni, saat berlangsung musim angin timur.

Muka laut naik
Dari pengamatan tinggi muka laut yang dikeluarkan Pusat Informasi Iklim Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat, diketahui sejak awal Mei 2016 hingga awal Juni 2016 muka laut naik dari nilai rerata di sekitar pantai Sumatera dan Jawa, atau penyimpangan positif. Bandingkan dengan tahun 2015, saat nilai paras muka laut negatif.

Kondisi 2016 sejalan dengan pandangan bahwa saat terjadi gejala El Nino tahun lalu, nilai pasang muka laut lebih rendah dari ketinggian rerata/normalnya. Gejala alam El Nino dengan suhu muka laut dingin mendukung kondisi tekanan Indonesia menjadi lebih tinggi dari kondisi tekanan rerata/normal untuk bulanan maupun tahunan.

Sebaliknya, dengan kondisi gejala alam La Nina yang kini mulai muncul, indikasi perkembangan April 2016 menunjukkan nilai simpangan tekanan 0. Artinya dalam kondisi netral dan sepertinya Mei 2016 bernilai positif untuk simpangan pasang muka laut, dan simpangan negatif untuk tekanan udara.

Hal itu mengindikasikan bahwa antara April hingga Juni adalah periode adanya perubahan dari gejala alam El Nino menuju ke gejala alam La Nina untuk perspektif global. Untuk perspektif regional, beberapa penyimpangan memicu kegiatan awan hujan menjulang tinggi atau awan konveksi penghasil hujan lebat hingga Juni.

Kini perlahan-lahan tekanan tinggi daratan Australia mulai naik. Kenaikan di kawasan Samudra Hindia barat wilayah Australia ini sepertinya akan berlangsung hingga beberapa bulan mendatang seiring pengaruh aktivitas gejala alam La Nina.

Posisi tekanan tinggi di selatan Jawa ini mendorong giatnya entakan angin dari arah timur- tenggara. Meski demikian, dari pertengahan Juni hingga beberapa minggu pada Juli, di kawasan pantai selatan Bali hingga Jawa-dan nanti pindah ke pantai barat Sumatera-akan ada kecenderungan gelombang pasang. Hal ini didukung oleh tiupan tegak lurus pantai untuk angin tenggara-selatan di pantai selatan Bali dan Jawa, serta angin dari selatan-barat daya untuk pantai barat Sumatera.

Bagaimana kecenderungan kondisi mendatang? Yang pasti gejala alam La Nina masih akan giat dan mantap. Namun, tiupan angin musim timuran yang masih lemah karena gradasi tekanan udara, akan giat bila ada aktivitas bintik hitam di Matahari.

Sayangnya, kegiatan sang surya masih lemah, sehingga situasi akan anomali atau keragaman kondisi cuaca dan iklim, akan berdampak pada kondisi perairan akan berlanjut. Masyarakat sebaiknya melakukan mitigasi untuk meminimalkan kerugian moril dan materiil.

Turunnya tekanan udara di perairan Indonesia akan menarik udara di daratan silih berganti. Rendahnya gradien tekanan udara di perairan Indonesia akan menimbulkan badai tropis yang minim kegiatan di wilayah Indonesia. Melemahnya tiupan angin menambah berbagai penyimpangan yang konsekuensinya pada kerancuan dan keragaman cuaca.

oleh Paulus Agus Winarso
disadur dari Kompas, Jum’at, 24 Juni 2016

Kamis, 23 Juni 2016

Pelajaran dari banjir dan longsor



Citizen journalism yang berbasis di kota Solo melaporkan setidaknya 24 orang meninggal dunia, akibat longsor dan banjir di Jawa Tengah, sementara 26 orang hilang dan masih dalam pencarian. Ribuan rumah juga hancur disapu banjir atau tertimbun tanah longsor di 16 kabupaten dan kabupaten akibat hujan lebat yang turun sejak Sabtu (18/6) siang hingga malam dan pagi harinya (19/6).

Bencana banjir dan longsor yang tiap tahun terjadi di berbagai tempat sebetulnya menjadi peringatan penting untuk bangsa Indonesia bahwa bencana semacam itu kini terus mengintai kita. Makin banyaknya lereng-lereng gunung yang gundul, rusaknya hutan konservasi dan hutan lindung; makin luasnya alih fungsi lahan (dari pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, dan perkantoran) serta habisnya pepohonan di sepanjang sempadan sungai-sungai besar menyebabkan bencana banjir dan longsor.

Kondisi tersebut diperparah dengan makin tingginya kenaikan suhu bumi akibat global warming dan naiknya permukaan air laut. Akibatnya, banjir tidak semata disebabkan air hujan, tapi juga kenaikan permukaan air laut (rob). Gabungan antara banjir akibat krisis lingkungan di darat dan rob air laut inilah yang menjadikan meluapnya air di kota-kota pantai berlangsung lama.

Fenomena banjir rob, khususnya, tiap tahun makin merangsek ke daratan dan skalanya makin besar karena manusia ternyata tak mampu mengatasi global warming. Keserakahan manusia untuk mengonsumsi energi fosil secara berlebihan masih berlangsung di mana-mana meskipun peringatan-peringatan akan bahaya meningkatnya kadar gas rumah kaca akibat konsumsi energi fosil yang rakus terus dikumandangkan.

Fenomena banjir yang makin dahsyat, gabungan antara "banjir darat" (karena hujan) dan "banjir laut" (karena mencairnya salju di kutub) akhir Mei dan awal Juni lalu, misalnya, melanda Eropa. Kota Paris nyaris tenggelam dengan korban mencapai 50 orang. Permukaan air Sungai Seine yang membelah Paris naik 6,5 meter dari biasanya. Begitu juga Sungai Danube yang membelah beberapa negara di Eropa. Akibatnya banjir melanda sejumlah negara Eropa.

Jos Delbeke, Direktur General for Climate Action at the European Commission, menyatakan dampak global warming sekarang jauh melampaui prediksi. Para pakar lingkungan dibuat kaget, ternyata dampak lingkungan akibat global warming jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Delbeke mencontohkan banjir Eropa 2016 dan badai raksasa Katrina yang menghantam Miami, AS, 2005, yang menewaskan 1.500 orang dan menimbulkan kerugian US$ 95 miliar.

Memulai dari sederhana
Jika negara-negara Eropa yang punya kepedulian terhadap lingkungan dan global warming saja diterjang banjir besar yang tak terpetakan sebelumnya, apalagi Indonesia. Saat ini, pembangunan infrastruktur untuk menarik investasi (dalam bentuk pembangunan industri) sedang digencarkan di seluruh Indonesia. Di Jawa misalnya, pembangunan jalan tol sudah hampir menjangkau setiap kabupaten dan kota. Dalam beberapa tahun lagi akan banyak industri dan pabrik di Pulau Jawa. Dampaknya, Jawa yang mudah dilanda banjir. Berkurangnya lahan resapan dan hutan serta meningkatnya iklim mikro niscaya menyebabkan Pulau Jawa makin rentan banjir.

Menghadapi fenomena banjir dan longsor tersebut, semua stake holder di Indonesia harus punya keprihatinan dan kepedulian serius. Kini saatnya kita harus merenungkan bahwa hidup kita hari ini adalah untuk masa depan anak cucu kita. Jika kita tetap serakah, merusak alam, dan terus mengonsumsi energi berlebihan, dan membangun gedung-gedung raksasa tanpa memperhitungkan beban permukaan tanah, dunia akan dilanda badai dan banjir raksasa.

Banyak cara untuk mengatasi katastropik banjir dan longsor akan datang. Setiap orang kudu membuat biopori. Lalu menanam pohon dan menampung air hujan untuk dipakai untuk kebutuhan rumah tangga guna mengurangi pemakaian air tanah. Juga sedikit mungkin memakai kendaraan bermotor serta menghemat pemakaian listrik di rumah dan kantor.

Sederhana memang. Tapi bila itu dilakukan secara massal oleh penduduk dunia niscaya hasilnya sangat signifikan: mampu meredam kenaikan suhu bumi, mencegah banjir, dan menahan longsor! Memang tidak langsung, tapi melalui perubahan ekosistem yang mengakibatkan bumi makin sehat, kuat, dan aman.

oleh Nyoto Santoso
disadur dari Kontan, Kamis, 23 Juni 2016